Skip to main content

Perang Semurup - Siulak, Catatan Sejarah Kerinci yang hampir terlupakan

Artikel ini bukan untuk membangkitkan dendam lama antar wilayah adat di Kerinci  tetapi untuk meluruskan sejarah yang hampir dilupakan, agar anak cucu tidak terkecoh nantinya sebagai mana kata adat "Hilang Tembo Hilang Tanah, hanyut Celak kikih piagam hilangkan kubur nenek moyang".
Perang antar negeri atau wilayah adat di kawasan Kerinci memang kerap kali terjadi, dalam beberapa surat piagam diketahui pernah terjadi perang Antara Kemantan dan Rawang memperebutkan tanah di dekat "Air Kemantan Mati", begitu pula antara Belui dengan Kemantan sehingga Sultan Indrapura turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Polemik permusuhan antar wilayah Kerinci telah dimulai sejak adanya pembagian wilayah Kerinci  yang ikut dicampuri oleh Sultan Jambi diwakili Pangeran Temenggung Kabul di bukit maupun dari Indrapura (Tuanku Berdarah Putih) sebagai dua otoritas besar yang berpengaruh di Kerinci saat itu. Saat Kain empat gabung (sebagai tanda kehormatan dan pembagian kekuasaan bagi penerimanya) yang dibawa Pangeran Temenggung dari Jambi habis, dimana yang menerima paling akhir adalah Mualim Hidayat (Malin Dayat) gelar Depati Batu Hampar dari Sandaran Agung dengan wilayah yang diakui pangeran Temenggung hingga Gunung Berapi (Gunung Kerinci), telah menimbulkan pertentangan oleh beberapa kepala suku dan Kepala negeri diwilayah tengah dan hulu Kerinci yang belum menerima kain kebesaran tersebut. Namun dengan kebijaksanaannya, Depati Batu Hampar bersedia membagi kain miliknya menjadi delapan dengan artian Wilayah kekuasaannya juga dibagi delapan, itulah yang disebut Mendapo nan Salapan, Tiga dihilir empat Tanah Rawang, Tiga dimudik empat Tanah rawang.
Adapun yang tiga dihilir itu adalah
1. Seleman
2. Hiang
3. Penawar
4. Rawang Mendapo Tap
Adapun Tiga di Mudik adalah
1. Semurup
2. Kemantan
3. Depati Tujuh
4. Rawang Mendapo Balun
inilah pemerintahan awal yang diakui oleh Kesultanan Indrapura dan Kesultanan Jambi.
Namun pembentukan sistem pemerintahan seperti ini telah banyak menimbulkan perpecahan  Dusun2 maupun Negeri di Kerinci, mereka tak mau dimasukkan kedalam pemerintahan yang telah terbentuk, dengan alasan bahwa sebelum pemerintahan Depati empat, Delapan helai Kain dibentuk dan diakui oleh dua kesultanan ini, masing2 Dusun telah memiliki wilayah  dan Pemerintahan masing2, dimana  sistem pemerintahannya disebut dengan Sko Nan Tigo Takah (Depati, Pemangku, Ninik Mamak). Dengan adanya perubahan yang diakui Sultan jambi tentu menghapus perjanjian lama antar dusun mengenai batas wilayah dan lain sebagainya. Maka semasa Sultan Sri Anum Suria Ingalaga menjadi Sultan Jambi, dikeluarkanlah banyak Surat Piagam beserta Celak yang mengakui Pemerintahan diluar Sistem Depati Empat, delapan Helai Kain  diantaranya Piagam Dusun Kumun yang disebut sebagai Tanah Kurnia (bisa dilihat di http://kumunkarantak.blogspot.com), Siulak Tanah Sekudung dan Sungai Penuh diakui statusnya sebagai Pegawai Jenang pegawai Raja.
Kisah Perang Antara Semurup dan Siulak adalah Kisah nyata yang mengiringi terbentuknya wilayah pemerintahan otonomi di Alam Kerinci yaitu Siulak Tanah Sekudung. Setelah Pembentukan Pemerintahan Mendapo Delapan  maka di Mendapo Semurup  diakui lah tiga orang Depati yang berkuasa yaitu
1. Depati Mendalo Bumi dan Depati Mudo Pamuncak
2. Rajo Simpan Bumi Indera ( Andum Laksana) , berkedudukan di Semurup
3. Depati Rajo Simpan Bumi Mangku Bumi berkedudukan di Siulak.
dengan status Wilayah Semurup - Siulak disebut Tanah Kepala Persembah (mungkin ini lahirnya Depati Kepala Sembah pada periode berikutnya).

Hal ini dibuktikan oleh Surat Piagam yang pernah diteliti dan disalin Oleh Petrus Voorhoeve ditahun 1940 dalam jurnalnya Kerintji Document, berikut bunyi Salinannya:


161. Surat bertulisan Melayu pada kertas.

(lihat gambar No. B 46) Bunyinya:

Tiga cap: 1-tidak bertulisan

2- Pangeran Suta Wijaya

3-Alwathik billah al-………..Sultan Ahmad Zainuddin.

Bahwa ini piagam tanah kepala persembah yang dijunjungkan oleh Seri Sultan Anum Suria Ingalaga (2) serta Pangeran Temenggung Mangku Nagara dengan cap surat celak piagamnya kepada Depati (3) Raja Simpan Bumi Mangku Bumi (tambahan:) dan Depati Raja Simpan Bumi Indera (? atau: Andum Laksana)

Adapun pebatasannya dengan Yang Patuan Maraja Bongsu Gunung (4) Berapi dan pebatasannya dengan depati empat muara Sekungkung mati dan pebatasannya (5) dengan Raja Hitam dan Raja Putih Bukit Tulang orang dan pebatasannya dengan orang (6) Teba pangkal titian. Itulah adanya perihal perintah Seri Sultan Anum Suria Ingalaga (7) serta Pangeran Temenggung Mangku Nagara yang dijunjungkan atas Depati Raja Simpan Bumi (8) Mangku Bumi itu barang yang kusut beselesai suarang beragi arta orang jangan (9) diambil arta2 diri jangan diberikan kepada orang dan barang siapa membunuh memberi (10) bangun barang siapa melukai memberi pampas barang siapa kepanjing ke dalam sepancung sulanya (11) Depati Raja Bumi Mangku Bumi dan (tan) Depati Mendala Bumi dan Depati Muda (12) Pamuncak (tambahan:) dan Depati Simpan Bumi Indera(?) laksana) barang perintah dan barang hukum yang dilakukan oleh depati yang betiga sekedudukan (13) di dalam tanah kepala persembah itu hukum Sultan dan Pangeranlah yang dijunjungnya itu adanya (14) Hubaya2 jangan dilalui seperti di dalam cap piagam ini dan barang siapa melalui perintah (15) dalam piagam ini atau beraja hitam, beraja putih, kena kutuk Pangeran Temenggung kebul balik (16) bukit, tiang rumahnya ke atas dan bubungannya ke bawah

Demikian lagi masuk di dalam sumpah itu (17) barang siapa membunyikan arta rajanya itu emas jatah jati rupa pesilak (?) (18) indah taring mustika canding dan gading yang baik itulah arta raja yang dijagai (19) oleh depati yang tiga sekedudukan itu petaruh duli Sultan dan Pangeran kepadanya.

(20) Tammat alkalam bilkhair (21) wassalam. (tambahan dengan huruf kasar:). Adapun Pemangkunya Rio Mulano, Mangku Rio (?), Mangku Hagung Salah bunuh di bangun, salah pakai (?) dipapas.

Berikut saya terjemahkan kembali :

Piagam ini memiliki Tiga Cap Mohor
1. Tidak Bertulisan
2. Cap Mohor Pangeran Suta Wijaya
3. Alwathik Billah Al................ Sultan Ahmad Zainunddin
Bahwa ini Piagam Tanah Kepala persembah, yang dijunjungkan oleh Seri Sultan Anum Suria Ingalaga serta Pangeran Temenggung Mangku Negara dengan Cap Surat Celak Piagamnya kepada :
Depati Raja Simpan Bumi-Mangku Bumi (berkedudukan di Siulak) dan Depati Raja Simpan Bumi Indra/Andum Laksana ( berkedudukan di Semurup) adapun perbatasannya dengan Yang dipertuan Maraja Bungsu, Gunung Berapi. Dan Perbatasannya dengan Depati Empat Muara Sekungkung Mati. dan Perbatasannya dengan Raja Hitam dan Raja Putih, Bukit Tulang Orang. dan perbatasannya dengan Orang Teba (Tebo), Pangkal Titian.
Itulah adanya perihal perintah Sri Sultan Anum Suria Ingalaga serta Pangeran Temenggung Mangku Negara, yang dijunjungkan atas :
Depati Raja Simpan Bumi-Mangku Bumi itu, Barang yang kusut berselesai, Sarang Beragih, Harta orang Jangan diambil, Harta Diri jangan diberikan kepada orang dan Barang siapa membunuh memberi bangun, Barang siapa melukai memberi pampas.
Barang Siapa Kepanjing kedalam sepancung Sulanya :
1. Depati Raja Simpan Bumi-Mangku bumi dan 2. Depati Mendala Bumi dan Depati Muda Pamuncak dan 3. Depati Simpan Bumi Indera Laksana.
Barang Perintah dan Barang Hukum yang dilakukan oleh Depati yang dilakukan oleh Depati yang tiga sekedudukan didalam "Tanah kepala persembah" itu Hukum Sultan dan Pangeranlah yang dijunjung itu adanya. Hubaya-Hubaya jangan dilalui seperti didalam Cap Piagam ini dan Barang Siapa melalui(melanggar) perintah dalam piagam ini atau beraja hitam beraja puth, Kena kutuk pangeran Temenggung Kebul dibukit, tiang rumahnya keatas dan bubungannya kebawah.
demikian lagi masuk didalam sumpah itu, barang siapa menyembunyikan Harta Raja iti emas, jatah jati rupa, Pesilak Indah Taring Mustika, canding dan Gading yang baik itulah harta raja yang dijagai oleh Depati yang tiga sekedudukan itu petaruh duli Sultan dan Pangeran kepadanya.  Tammat Alkalam BilKhair, Wassalam. Adapun Pemangkunya Rio Maulano, mangku Rio , Mangku Agung salah Bunuh dibangun, salah pakai di Pampas.

Dengan diakuinya  Depati  berkuasa di Tanah Kepala Persembah ini oleh Sultan, menimbulkan ketidakpuasan Depati Lain yang mau tidak mau Tanah yang dia Kuasai dan dikelola oleh Anak dan kemenakannya dikuasai oleh Depati yang diakui melalui celak piagam dari Jambi. Wilayah  Depati Intan di Siulak Mukai, dikuasai oleh Depati Muda pamuncak dari Semurup, Dusun Dalam dan Koto Beringin dikuasai oleh Depati Semurup Awang Malilo dan Depati Semurup Merah Mato padahal di dusun tersebut adalah keluarga dari Depati Mangku Bumi, apalagi Hutan, sawah, ladang yang sejak zaman dulu telah diingat di kurano oleh nenek Moyang jauh sebelum lahirnya piagam ini menjadi penguasaan Depati yang tersebut dalam piagam. Menurut cerita turun temurun, terjadi  penjajahan skala kecil di tanah Siulak oleh para Depati Semurup, hal ini dikisahkan bahwa dalam setiap kenduri Sko maka Buluh lemang dan Daun Pisang ditanggung oleh Anak buah anak kemenakan Depati di Siulak sedangkan saat pembagian Lemang maupun Ibat Nasi, Buluh lemang Berisi Abu,dan Ibat Nasi berisi Tanah yang diberikannya (Menurut penulis, ini adalah kiasan bahwa masyarakat siulak membayar mas manah kepada kesultanan Jambi melalui Depati Semurup namun mereka tidak mendapat hak perlindungan dan pengakuan dari Kesultanan Jambi). Sehingga Tiga orang Depati dari Siulak ini, berangkat ke Jambi bergantian untuk menemui Sultan. Pada pertemuan terakhir Antara utusan dari Siulak yakni Depati Mangku Bumi Tuo Kulit Putih Suko Dirajo berserta Permentinya Rio Mudo dengan Sultan Jambi. Sultan Jambi mengakui status siulak  sebagai daerah tersendiri lepas dari kekuasaan Mendapo Delapan dengan Sebutan Tanah Sekudung Adat Dewek Pusako Mencin, seperti adat dahulu kala diberikanlah kain tunggal sebagai pertanda kekuasaan Tanah Sekudung, Kain tersebut disebut dengan kain cabuh Turki Talukih cindai Agam. Adapun Surat Piagam dan celaknya menyusul kemudian dihantar sendiri ke Kerinci . sekembalinya dari Jambi inilah timbul peperangan terkait sengketa Wilayah kekuasaan antara Semurup dan Siulak, peperangan disebut terjadi di beberapa Lokasi perbatasan antara Semurup Siulak diantaranya:
1. Dahat Gao sekarang sudah menjadi desa baru Air hangat
2. Di sepanjang Muara Air Siulak Kecil hingga saat ini disana masih ada tempat yang disebut Lubuk Serigi Nambak (Serigi Nambak = Bambu runcing yang telah menghalangi Arus sungai), Lubuk Sikijeng Tudung Hanyut (Tudung hanyut = topi hanyut, dikisahkan Ikat kepala para korban perang hanyut menghiliri sungai).
3. Di daerah Siulak Mukai diketahui dari kisah turun temurun pasukan dari Semurup berhasil memasuki pintu lawang dusun Mukai tengah sehingga tabuh larangan yang berada dekat pintu lawang dihanyutkan di Sungai Batang Merao).

Dalam seluko adat tradisional dituturkan bagaimana perang yang terjadi di Siulak Mukai:
 
Buyung kalabu mukak pintu lawang, 
ngaruntung tabuh anyut,
aro baberit pangalah tinggan,
karucut kacambai layu,
batang medang belah dibelah,
semurup balik malu,
pendung kuto padang dak ndak kalah
 

Mengenai sejarah dan peristiwa perang tersebut, secara ringkas bisa dibaca dibawah ini:

Batedo (Memohon Pengakuan Tanah Wilayah) Ngadap ke Tanah Jambi


Sudah menjadi kebiasaan para Depati Zaman dulu berebut Tanah wilayah di silunjur Bumi Kerinci, Begitu Pula saat Pangeran Temenggung kebul dibukit Terjun ke Alam Kerinci, Mula2nya dia mengakui kekuasaan Depati tigo dibaruh di wilayah Kerinci Rendah, kemudian mengakui kekuasaan Depati empat di Kerinci Tinggi, sesampai di Sandaran Agung maka datanglah para tetua suku dari Hulu Kerinci minta diakui pula, mereka membawa berbagai hadiah untuk dipersembahkan kepada pangeran Temenggung, Tanda Pengakuan itu adalah 4 gabung kain yang beliau bawa namun Kain tersebut sudah habis ketika sampai kepada Depati Batu hampar, oleh Depati Batu Hampar beliau bagilah kain miliknya Menjadi Delapan helai Kain, satu helai tinggal untuk beliau ( sehingga beliau juga disebut sebagai Depati Atur Bumi, Orang Seorang Bugela duo) tujuh lainnya untuk tetua suku di hulu, yaitu Depati Serah Bumi ( seleman), Depati Penawar ( Mendapo Penawar), Depati Mudo Telawang Lidah ( Rawang Mendapo Tap), Depati Punjung Sepenuh Bumi ( mendapo Balun Rawang), Depati Sikungkung, Depati Kuning Kudrat, Depati Ngalih ( Dipati Tujuh), Depati Situo ( Mendapo kemantan), Depati Rikno Kepalo Sembah Intan Panggar Bumi ( Mendapo Semurup- Siulak sebagai Tanah Kepala Persembah). 

  Kain itu habis, Pangeran mengakui wilayah Tanah Sulak Alam Putih masuk wilayah Depati Kupalo Sembah Anak Semurup. inilah yang menjadi cikal bakal konflik antara semurup siulak masa dulu. Kemudian Saat itu Bertedo lah Rajo Simpan Bumi dari Sulak Gedang ke Maro Masumai minta diakui kekuasaan beliau di Tanah Sulak beliau mempersembahkan Bajang Imau Batali Suto ( menurut kisah anak lelaki dari Depati Marajo dari ibu tidak diketahui, makanya disebut Bajang Harimau), Namun Pangeran memberi supucuk piagam yang inti isinya mengakui kekuasaan Rajo Simpan Bumi dan Mangkubumi beserta tiga Depati lainnya ( Depati mendalo Bumi, Rajo Simpan Bumi Berdarah putih dari semurup dan Depati mudo) di Tanah Wilayah yang batasnya Hilir Muara Sekungkung Mati, Bertemu dengan Batas orang tebo di Pangkal titian, watas dengan Rajo hitam rajo Putih di Bukit Tulang Uhang, mudik berwatas Gunung Burapi bertemu yang dipatuan Marajo Bungsu Bagumbak Putih Bajanggut merah diam di lekuk Sungai Pagu. untuk periode berikutnya tidak lama sesudah itu bertedolah Rombongan Depati Intan dari Siulak Mukai membawa Bungo Kembang Sekaki ( Menurut cerita Bunga Melur yang Muncul dari tanah tanpa Daun dan Batang). Rombongan ini lama tidak kembali lagi ke kerinci, untuk itu dijemput lah oleh Depati Mangku Bumi dari Siulak Panjang, awalnya beliau mengadakan Tarak di Air Manimbak, batas dengan solok selatan sekarang. disana beliau bertemu dengan Tengku Nyato depati dan disana pula beliau mendapat seekor Siamang Putih, Siamang ini amat menurut pada beliau sehingga Siamang ini ikut pulang bersama, Siamang ini turun di Koto Rendah (Asal daerah disana disebut koto rendah, Koto merendah tempat turunnya Siamang Putih dari Pohon). maka pergilah beliau menyusul bertedo ke muara masumai dengan membawa siamang putih untuk dipersembahkan Ke Jambi. naas sampai di semurup Siamang itu mati diracun, oleh sebab itu beliau membawa kulitnya saja ke maro masumai, sesampai disana amat senanglah hati Pangeran di Muaro Masumai menerima kulit tersebut, Pangeran akhirnya mengakui kekuasaan Depati Bertiga orang di Tanah Sulak Beliau memberi Segabung kain sebagai Tanda Pengakuan, Surat Piagamnya akan diantar oleh Pangeran ke kerinci Sebagaimana adat Purbakala. sesampainya di Koto payang ternyata rombongan dicegat oleh Depati Semurup Merah mato antara belui dan Semurup. Maka, Depati Mangku Bumi di bantu oleh orang2 sekungkung diantaranya Depati Sekungkung Jinak Putih, Depati Sekungkung Liba Tapak dan Rajo Hitam Tanah mendapo tunggu balai beratap ijuk dari koto tuo, rombongan dari Jambi itu dibagi tiga rombongan, untuk mengecoh depati semurup. satu rombongan adalah Rombongan depati mangku Bumi, Dua Rombongan adalah orang sekungkung dengan melewati rute berbeda. Dengan cara ini sampai rombongan ditanah sulak, sebagai tanda terima Kasih beliau Kain Cabuh Cindai Agam bagumbak emas babaju Perak yang dari jambi itu beliau Kerat tiga, satu kerat untuk dibagi bersama Orang Sekungkung dan juga beliau memberikan arah ajun kepada orang2 Depati Tujuh dan Kemendapoan Kemantan atas jasanya di Tanah Sekudung(Ada sejumlah kawasan Adat tanah sekudung dihuni oleh orang Kemantan seperti desa Tanjung Genting, Orang belui di Simpang Tutup dan Orang Ladeh di Sungai Batu Gantih). Cerita berlanjut sewaktu Kenduri Sko Disemurup, Depati Mangku Bumi di Undang kesana, saat itu Kepala Beliau dipukul dengan Pedang Oleh Depati Semurup merah Mato tetapi tidak Mruh (beliau kebal Senjata). Beliau diselamatkan oleh anak batino beliau di koto Dua. inilah Penyebab terjadinya perang semurup Siulak. sekembalinya di Mudik beliau mengumpulkan pasukan dari anak buah anak kemenakan depati lainnya yaitu Depati Sungai Langit, Depati marajo, Rajo Simpan Bumi, Temenggung Baju Bsi, Tengku Nyato Depati dll. Untuk memancing terjadinya peperangan, Depati Mangkubumi dan Depati Sungai Langit beserta Temenggung Baju Bsi menuju  ke Darat Gao (Air Panas Semurup, Dusun Baru air hangat sekarang) beliau merusak Padang Bigau orang disana, rumah2 beliau goncang seperti gajah mengamuk, Perempuan beliau Utas Rambutnya,sehingga orang2 berlarian pulang kedusun Semurup. Maka depati semurup mengumpulkan Pasukan untuk mengadakan perlawanan sehingga peperangan tidak terhindarkan, Depati Mangkubumi beserta depati yang lain memimpin pasukan di Tanah Mungguk Lubuk Timawak, laut Ampo padang Berparit, Muara air Sulak Kcik Serigi Nambak Lubuk Sikejeng Tudung Anyut ( pepatah adat ini menggambarkan dahsyatnya peperangan sehingga Serigi Nambak( Tumbak Bambu sudah membendung Sungai, Lubuk Sekijeng Tudung Anyut menggambarkan Lubuk tersebut sudah penuh dengan Topi dan Kepala Korban Perang).

Di lokasi lain perang terjadi di Pulau Luweh perbatasan Siulak Mukai dan Pendung, Pasukan Semurup berhasil memasuki Pintu lawang dusun Mukai tengah, Pasukan tersebut menghanyutkan Tabuh Larangan  milik Dusun tersebut ke Sungai Batang Merao. Perang berlansung Hingga beberapa Hari ,ada yang menyebut perang tersebut perang terjadi selama 2 kali tujuh hari (Dua Minggu Lamanya) hingga banyak yang tewas. Muncullah Ninik Jadun (orang Semurup menyebut jadun sebagai Orang Sulak, Orang Sulak mengatakan Jadun ini adalah Orang Semurup sehingga banyak yang menganggap Jadun ini adalah orang jadi2an penjelmaan Dewa dari gunung Berapi) di tengah Gelanggang Perang, Jadun ini berkata kepada Depati mangku Bumi "pancunglah saya disini, Ini lah Tanda Batas Semurup dengan Tanah Siulak" lokasi terpancungnya Ninek Jadun didirikan tugu berupa batu Mijan Kecil sebagai Tanda Batas Wilayah Semurup-Siulak, akan Jadi ingatan anak cucu terhadap Buat dingan Janji nenek Moyang. Kejadian Perang Tersebut segera sampai kepada Pangeran temenggung dan Pangeran Sukarta negara di Muaro Masumai, Bahwa Sulak masih dilingkup celak Piagam sebelumnya yaitu Celak Piagam Tanah Kepala Persembah dibawah kuasa Depati Rikno (Retno) Intan Kupalo Sembah  Bumi, maka diutuslah Kiai Depati kartanegara serta tuanku Sidi Almukmin sebagai ganti diri Pangeran. Jenang (Utusan) Pangeran terjun ka Alam kerinci teruh ku Tanah Sulak, maka berkumpullah depati Sekalian di Tanah Pulau Pasembah (tanah kepala persembah Semurup) maka berkata lah Tuanku Sidi Almukmin Seperkata aku ini adalah seperkataan dari Pangeran hendaknya sampai kepada Depati di Tanah Sulak, Sko Depati Kembali kepada Depati,Sko Permenti kembali kepada Sko Permenti seperti tanah kembali kejatinya seperti Bung Pulang Kesuluh itulah karang setia orang tua-tua dahulu jangan di ubahkan (Lihat Piagam kerintji Document milik petrus Voorhoeve nomor 147), Maksudnya adalah Tanah Sulak kembali dipegang oleh para tetuanya (Tanah sudah kembali kejatinya). maka naiklah Tuanku Sidi al Mukmin ka Balai Munganjung  Tanah Semurup bertemulah Dengan Depati Rikno Intan Kumbalo Sembah Pagar bumi, maka di pecahlah sko beliau Depati Kupalo Sembah tinggal di Semurup dan Depati Intan Kumalo Sri (kemenakan depati Kupalo Sembah, Ibunya dari semurup yang semendo surut ke Sulak Mukai) balik Ke Tanah Sulak seri sudah berjawat antara Mamak dengan kemenakan. Kemudian Naik lagi depati kartanegara ke rumah Depati Intan Kumbalo bumi kum Sigalo Bumi rajo di Siulak Mukai dan Rumah Gedang Rajo Simpan Bumi Tunggun Setio Alam dibagilah Piagam yang tigo Pucuk yaitu untuk Rajo Simpan Bumi, Dipati Mangkubumi dan Dipati Intan Kumbalo Bumi. kemudian berkata pula dipati tigo lurah pada Kiai minta dibuat lantak oleh pangeran antara Tanah Sikudung dengan Selapan helai kain, Mudiklah Pangeran membawa lantak tiga Jenjang, maka dipancanglah lantak yang tigo jenjang itu pertama di Seleman, kedua di tanah Rawang ketiga di Semurup itulah Tanah yang disebut tanah tigo jembo, kalau Tanah Sudah Bergabung, kalau Sungai Sudah babatang, kalau genggan Sudah Beruntuk, Ingat Kurano Masing-masing, maka Dipecahlah Tanah Kepala Persembah (yaitu Wilayah Semurup dan Siulak) menjadi dua bagian :

1. Pamuncak Tanah Semurup ( Inilah Pamuncak Mendapo Delapan Helai kain)

2. Siulak Tanah Sekudung Adat Dewek Pusako Mencin
, wilayah Otonomi tersendiri di Kerinci diluar kekuasaan Depati Empat dan Delapan helai kain yang artinya Siulak Tanah Sekudung tidak perlu ikut dalam kerapatan di Hamparan besar Rawang maupun Hamparan Hiang Tinggi, tetapi hubungannya lansung dengan Pangeran Jambi yang berada di Maro Masumai.

Maka Akhir dari proses pembentukan Pemerintahan Alam Kerinci terdiri dari
1. Pemerintahan Depati Tiga Dibaruh Kerinci Rendah

Depati Setio Nyato
Depati Setio Rajo
Depati Setio Beti
2. Pemerintahan Depati Empat, Delapan Helai Kain di Kerinci Tinggi

Depati Empat:
Depati Maro Langkap di Tamiai
Depati Incung Telang atau Depati Nyato Terang di Pulau Sangkar
Depati Biang Sari di Pengasi
Depati Batu Hampar di Sandaran Agung,
Delapan Helai Kain:
Mendapo Seleman
Mendapo Penawar
Mendapo Hiang
Mendapo Tap di Rawang
Mendapo Balun di Koto Baru Rawang
Mendapo Dipati Tujuh
Mendapo Karamantan
Mendapo Semurup (Tanah Pamuncak),
Dengan Tambahan Mendapo Limo Dusun, sebagai Pegawai jenang pegawai rajo yang berada di Sungai Penuh dibawah Depati nan Bertujuh, Permenti nan Sepuluh Ngabi Teh Satiyo Bawo. 
3. Pemerintahan Tanah Sekudung Siulak, Anjung Lain Tepian Lain Adat Dewek Pusako Mencin
Di Bawah Depati Bertiga Orang, yaitu:
Depati Intan di Siulak Mukai, berempat orang:
Depati Intan Kumbalo Bumi
Depati Intan Tengah padang Tuo 
Depati Intan Maro Masumai
Depati Intan Pagar Bumi Jati
Depati Mangku Bumi di Siulak Panjang, berempat Orang:
Depati Mangku Bumi Tuo Kulit Putih Suko Dirajo
Depati Mangku Bumi Tuo Suto Menggalo
Depati Mangku Bumi Tuo Karang Setio
Depati Mangku Bumi Tuo Tanah Mendapo 
Selain Depati Mangku Bumi yang berdiri di Siulak Panjang, di wilayah Koto Tuo Depati Tujuh juga terdapat seorang Mangku Bumi karena beliau berjasa dalam perjuangan terbentuknya Tanah Sekudung Siulak yaitu: Depati Kuning Ijayo Mangku Bumi. Dalam Pepatah Adat dikatakan:

"Kain Segabung Tigo Sekerat Sebagi Tinggan di Sulak Panjang, Sebagi Tinggan Di Koto Tuo Rajo Hitam Tanah Mendapo Tunggu Balai Beratap Ijuk Lik Maro Sekungkung Mati, Sebagi Tinggan Di Koto Beringin Luhah Jagung Marajo Indah Sungai Langit Depati Marajo"


Depati Rajo Simpan Bumi di Siulak Gedang, Berempat Orang:
Rajo Simpan Bumi Tunggun Setio Alam
Rajo Simpan Bumi Hampar Setio Alam
Rajo Simpan Bumi Tiang Setio Alam
Rajo Simpan Bumi Karang Setio Tanah Indopuro

4. Pemerintahan Lolo Seliring Kelambu Rajo
5. Pemerintahan Kumun Batu Gong Tanah Kurnia, dengan Empat Orang Depati

Comments

Suku Kerinci

Suku Kerinci

Popular posts from this blog

Sekilas Sejarah Perkembangan Islam di Kerinci

Oleh: Hafiful Hadi Sunliensyar

A. Masuknya Islam Ke Wilayah Kerinci

Agama Islam telah  masuk ke kawasan Kerinci sekitar  abad ke  14 M, hal ini dapat dilihat di dalam naskah Undang-undang Tanjung Tanah. Walaupun naskah undang-undang tersebut berasal dari Kerajaan Dharmasraya-Malayupura yang rajanya saat itu penganut Budha Tantrayana, namun sang raja mengirim seorang Khoja (Khwaja) sebagai diplomatnya dalam menjalin hubungan dengan para  Dipati di Silunjur Bhumi Kerinci. Pendakwah itu bernama "Kuja (Khwaja/Khoja) Ali Dipati" sebagaimana yang tertulis dalam naskah (Kozok, 2006).  Khoja atau Khawaja yang dalam tradisi Islam di India maupun Persia merupakan panggilan untuk seorang pendakwah beraliran Tasawuf/Thariqah. Dalam historiografi tradisional 'Kuja Ali Dipati' bahkan tidak diketahui dan tidak pernah disebut sebagai leluhur orang Kerinci, sebaliknya historiografi tradisional tersebut menyebut  enam orang ulama sebagai penyebar Islam di Kerinci pada periode abad 13…

Sejarah Negeri Jambi

Ikhtisar Sejarah Negeri Melayu Jambi
oleh Hafiful Hadi S

Rujukan Utama : Ikhtisar Sejarah Sepucuk Jambi Sembilan Lurah Oleh Usman Meng

Kepercayaan dan agama Suku Kerinci sebelum Masuknya Islam

Suku Kerinci  merupakan suku tertua di pulau sumatera Yang mendiami dataran tinggi kerinci termasuk kedalam Rumpun Proto Melayu,di duga berasal dari yunan dataran cina selatan. Di indonesia suku dayak,suku batak Dan Minangkabau memiliki kedekatan budaya dengan Suku kerinci.
   Sejak Ribuan tahun yang lalu suku Kerinci menganut sistem kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Dimana mereka beranggapan ada kekuatan spritual lain yang mengendalikan alam semesta. Kekuatan Lain tersebut menurut mereka adalah sebagai berikut
     1. Peri  sebagai penguasa angin dan elemen udara lainnya serta bersemayam di langit
      2. Mambang Sebagai penguasa Hujan dan elemen air serta bersemayam di Laut
ada beberapa enam mambang yang dipercaya oleh suku kerinci yaitu
Mambang bujangMambang GadihMambang PanyiwatMambang PanyangkitMambang PanjumbukMambang Panyambung       3. Dewo sebagai Penguasa hutan dan elemen tanah serta bersemayam di pegunungan atau  hutan larangan
Selain mempercayai hal tersebut,suku ke…