Skip to main content

Sejarah Kerinci

SEJARAH TERBENTUKNYA WILAYAH TANAH SEKUDUNG SIULAK
oleh Hafiful Hadi s

A. Masa  Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Manjuto

   Pada masa periode ini wilayah ini bernama Renah punti alo yaitu suatu kawasan negeri yang di kepalai oleh seorang raja yang bernama Sutan Kalimbuk dan istri nya yang bernama Saleh Gadis  Tandang Ngemawai. Pada masa ini, Negeri ini ini mencapai puncak kejayaan nya sehingga di Kisahkan bahwa Sutan Kalimbuk menyimpan banyak kekayaan berupa emas dan perak ( berpiuk emas, bertungku emas, berpasir emas ). Hal ini menimbulkan niat dari kerajaan Menjuto untuk menguasai wilayah ini karena saat itu kerajaan menjuto mengalami kekalahan akibat perang dengan sriwijaya. Maka oleh kerajaan Menjuto di utus lah Kademang yang bertujuh untuk menaklukannya nya tetapi hal ini tidak lah mudah karena Raja sutan kalimbuk merupakan orang yang sakti ,bahkan untuk menguasai daerah tersebut memerlukan waktu bertahun tahun setelah Salah seorang dubalang kerajaan menjuto yang bernama Demang Sakti bersekutu dengan Seorang pendekar dari kerajaan sriwijaya yang bernama Bujang Palembang. Karena kekuasaannya di rebut sutan kalimbuk bersama rakyatnya menghindar ke Tanah Jiluwai dan Gunung Bungkuk yaitu perbukitan sebelah barat kawasan siulak sekarang dan harta kekayaan nya beliau tenggelam kan di beberapa buah anak sungai. Menurut mitos yang berkembang beberapa anak sungai tersebut adalah sebagaiberikut:
1. Sungai Keliki
2. Sungai Bermeh
3. Sungai Perak
4. Sungai Laheng
konon katanya di sana masih sering penampakan orang bunian yang berasal dari rakyat sutan kalimbuk,selain itu sering di temukan pecahan pecahan kendi dari tanah serta pecahan pecahan piring peninggalan sutan kaliumbuk.
   Setelah menang perang maka Demang sakti dan Bujang Palembang yang berganti nama Bujang Agung mulai mendirikan perkampungan sehingga di kawasan Hilir terbentuk Dusun Padang jambu alo (wilayah Siulak Gedang Saat ini) dan sebelah Mudik dusun pulau panjang dan Koto muaro (wilayah Dusun Baru dan siulakPanjang saat ini) yang terletak di pinggiran Sungai Batang Merao.

B. Masa Kerajaan Pagaruyung

  Setelah berdirinya kerajaan Pagaruyung,maka banyaklah bangsawan2 kerajaan tersebut yang meninggalkan kerajaan tersebut yaitu untuk memperluas kawasan kerajaan nya, wilayah yang mereka tuju terutama daerah kerinci yaitu wilayah Siulak sekarang mereka masuk melalui jalan yang di dalam adat di sebut sebagai Lawang surat lipat yang rute nya melalui Sungai Pagu - Koto Limau  Manis  (di kayu aro sekarang)-Koto Batu kemudian masuk ke wilayah siulak yang saat itu masih bernama Rantau Kabun Kabun ( Rantau Berkabut),diantara mereka adalah sebagai berikut
  1. Rombongan Dari Sumanik Batu sangkar bernama Mangkudum Semat,Mangkudum Darat dan Mangkudum Sakti (Mereka Menempati Perkampungan Padang Jambu Alo Dan Pulau Panjang)serta Temenggung yang tiga saudara
  2. Rombongan Datuk Dewo Nyato,Ratu Hitam,Gajah Mada,Rajo Liko Dan Datuk mangkudum (mereka mendirikan pemukiman baru di wilayah siulak mukai sekarang).serta Kerenggo Bungkuk,Lemutung Hitam Dan Tebun Tandang Namun mereka terus melanjutkan Perjalanan hingga ke Jerangkang Tinggi
      Sesampai nya di wilayah siulak Ratu hitam Digelari sebagai Saleh Hitam Bertap Bumi.
berikut sekilas sejarah tentang kedatangan rombongan kedua ini:
      Pada Masa Dahulu pernah terjadi Perang besar antara Kerajaan pagaruyung yang di pimpin adityawarman dengan kerajaan Majapahit. Saat itu diutuslah Mahapatih Gajah Mada beserta rombongan (seperti tersebut diatas)  untuk menaklukan kerajaan pagaruyung. Peristiwa besar ini di kiaskan sebagai Adu Kerbau antara Kerbau Besar dari Kerajaan Majapahit (disebut kerbau besar karena kerajaan majapahit adalah kerajaan terbesar di Nusantara Saat itu dengan wilayah Taklukan yang bsar pula) dengan Anak Kerbau (anak kerbau di istilah kan sebagai kerajaan Pagaruyung karena merupakan kerajaan kecil di sumatra) . Dalam peristiwa Ini Kerajaan Pagaruyung memenangi atas Perang tersebut makanya di sebut MinangKabau( Menang Adu Kerbau). Rombongan dari kerajaan majapahit setelah  kalah perang melarikan diri menuju Daerah Kerinci dengan Menelusuri Bukit barisan. Rombongan ini kemudian menetap di wilayah kerinci,mendirikan perkampungan baru dan menyatu dengan Penduduk asli setempat.
   tidak ada Sumber tertulis mengenai peristiwa ini di Wilayah Kerinci tetapi hanya Sumber lisan dari para Belian Saleh(pemuka agama Tradisional kerinci) Saat mereka Mengucapkan Mantra Mantra Pemanggilan Roh nenek Moyang, Berikut Salah satu bunyinya Yang menyebut Ratu Hitam dengan Gelar Saleh Hitam Bertap Bumi
    Berkat Guru*  Saleh Hitam Bertap Bumi
        bertap di ado bumi ado
        bertap Di jadi Bumi Jadi
         kayo turun Tang "Jawa Mataram"
         Munepat di Koto Batu
         Renah Alam Pagaruyung
         Kayo Balik Ku Alam Kinci
         Munepat Di Hyang Tinggi
         Kayo Burusik Di Sahung Tujuh 
         Nyago Saleh Yang Batigo
        Menempuh Riak Encam Seribu
         Menempuh Galumbang Yang Duo bleh
         Burusik Di bento berayun di bigau Rebah
          Kayo Turun Di guguk tinggi
           beragam di guguk Rendah.........
mantra di atas bila diartikan Menjelaskan sejarah perjalanan ratu hitam dari jawa mataram Hingga sampai Ke Kerinci Kata Guru merupakan sebutan Untuk Roh Nenek Moyang yang di serap dari Istilah Agama Hindu ( Batara Ghuru) di sini dapat di ambil kesimpulan Bahwa agama Tradisional Kerinci Masa Dahulu pernah Dipengaruhi oleh agama Hindu.
    Satu lagi sumber lisan Yang menyebut salah seorang bangsawan Kerajaan Majapahit Yang Sampai keKerinci
      Berkat Guru Rio Mendaro Langit
       Kayo turun dari "Jawa Mataram"
       Nyandang pedang Jinawi Mutuh antai
        Mao Kris Penikam Batu
       Kayo Burusik Tarutung Tinggi
       Kayo Beragam Tarutung Rendah
        Nyago Nenek mamak yang Batujuh
         Depati Yang Butigo.......dan seterusnya.....
       


C. Masa Kerajaan Indropuro

Pada Saat Ini banyak bangsawan kerajaan Indropuro Yang menghindar ke Kerinci setelah kalah perang dengan Portugis Diantara Bangsawan tersebut adalah Sutan gegar Muhammad Alamsyah yang Balik Ke Siulak Gedang Di luhah Temenggung (rumah Temenggng Kayo) dan Rombongan Dari Lunang Selaut yang di sebut serajo limo Beradik

D. Masa Kerajaan Melayu Jambi dan berdirinya Depati Empat Delapan Helai Kain

Untuk memperluas daerah taklukannya Raja melayu Jambi Mengutus Pangeran Temenggung Kabul Untuk menemui Kepala kepala suku kerinci untuk memberikan kekuasaan dan dan beberpa helai kain sebagai tanda bahwa Kerinci Tunduk Pada kekuasaan Melayu Jambi,Kepala Suku Yang Mendapat kain dan gelar kebangsawanan tersebut adalah
   1. Depati Muaro Langkap di Tamiai
   2. Depati Incung Telang di Pulau Sangkar
   3. Depati Biang Sari di Pengasi
   4. Depati Batu Hampar di Sandaran Agung
karena kain kebesaran yang dibagikan kurang dan banyak kepala suku wilatah hulu yang belum mendapatkan maka oleh Depati Batu Hampar kain tersebut di bagi delapan dan di berikan kepada
   1. Depati serah bumi di Seleman
    2. Depati Mudo di Penawar
    3. Depati Atur Bumi di Hiang (Juga di sebut Depati Batu Hampa)
    4. Depati Mudo Telawang Lidah di Tanah Rawang Dan Di beri Pusaka Tumbak Bajanggut Jenggi Bagumbak Emas Yang di sebut Mendapo tap
    5. Depati Kupalo Sembah Intan di Semurup
    6. Depati Tujuh
    7. Depati Setuo di Kemantan
    8. Depati punjung Sepenuh Bumi Di Tanah Rawang Yang di sebut mendapo Baruh
Inilah yang di sebut Depati Empat Delapan Helai Kain.
Karena tidak mendapatkan kain kebesaran maka wilayah siulak berada dibawah kekuasaan Mendapo semurup. dimana Kawasan Siulak Mukai pemimpinnya Depati Kepalo Sembah Intan,wilayah siulak gedang di kuasai depati semurup Anggo Nalo dan Depati semurup Awang Melilo. Hal inilah yang menyebabkan kemarahan dan pemberontakan oleh para kepala suku di wilayah siulak yang menginginkan kemendapoan tersendiri.
Berikut Bunyi Piagam Berdirinya Mendapo Semurup yang menyebutkan siulak sebagai tanah kekuasaanya

161. Surat bertulisan Melayu pada kertas.

(lihat gambar No. B 46) Bunyinya:
Tiga cap: 1-tidak bertulisan
2- Pangeran Suta Wijaya
3-Alwathik billah al-………..Sultan Ahmad Zainuddin.
Bahwa ini piagam tanah kepala persembah yang dijunjungkan oleh Seri Sultan Anum Suria Ingalaga (2) serta Pangeran Temenggung Mangku Nagara dengan cap surat celak piagamnya kepada Depati (3) Raja Simpan Bumi Mangku Bumi (tambahan:) dan Depati Raja Simpan Bumi Indera (? atau: Andum Laksana)
Adapun pebatasannya dengan Yang Patuan Maraja Bongsu Gunung (4) Berapi dan pebatasannya dengan depati empat muara Sekungkung mati dan pebatasannya (5) dengan Raja Hitam dan Raja Putih Bukit Tulang orang dan pebatasannya dengan orang (6) Teba pangkal titian. Itulah adanya perihal perintah Seri Sultan Anum Suria Ingalaga (7) serta Pangeran Temenggung Mangku Nagara yang dijunjungkan atas Depati Raja Simpan Bumi (8) Mangku Bumi itu barang yang kusut beselesai suarang beragi arta orang jangan (9) diambil arta2 diri jangan diberikan kepada orang dan barang siapa membunuh memberi (10) bangun barang siapa melukai memberi pampas barang siapa kepanjing ke dalam sepancung sulanya (11) Depati Raja Bumi Mangku Bumi dan (tan) Depati Mendala Bumi dan Depati Muda (12) Pamuncak (tambahan:) dan Depati Simpan Bumi Indera(?) laksana) barang perintah dan barang hukum yang dilakukan oleh depati yang betiga sekedudukan (13) di dalam tanah kepala persembah itu hukum Sultan dan Pangeranlah yang dijunjungnya itu adanya (14) Hubaya2 jangan dilalui seperti di dalam cap piagam ini dan barang siapa melalui perintah (15) dalam piagam ini atau beraja hitam, beraja putih, kena kutuk Pangeran Temenggung kebul balik (16) bukit, tiang rumahnya ke atas dan bubungannya ke bawah
Demikian lagi masuk di dalam sumpah itu (17) barang siapa membunyikan arta rajanya itu emas jatah jati rupa pesilak (?) (18) indah taring mustika canding dan gading yang baik itulah arta raja yang dijagai (19) oleh depati yang tiga sekedudukan itu petaruh duli Sultan dan Pangeran kepadanya.
(20) Tammat alkalam bilkhair (21) wassalam. (tambahan dengan huruf kasar:). Adapun Pemangkunya Rio Mulano, Mangku Rio (?), Mangku Hagung Salah bunuh di bangun, salah pakai (?) dipapas.


 Bunyi Piagam Kedua
Tiga cap: 1. tidak bertulisan. 2. Ini cap Pangeran Suta Wijaya. 3. Tidak terbaca

(1) Bahwa ini piagam tanah kepala persembahan yang dijunjungkan oleh Seri Sultan Anum Suria (2) Ingalaga serta Pangeran Temenggung Mangku Negara dengan cap surat celak piagamnya kepada Depati (3) Muda Pamuncak dan Depati Muncak Negara. Adapun pebatasannya dengan Yang Petuan Meraja Bungsu, Gunung (4) Berapi dan pebatasannya dengan Depati Empat Muara Sekungkung Mati dan pebatasannya dengan Raja (5) Hitam dan Raja Putih, Bukit Tulang Orang, dan pebatasannya dengan orang Teba pangkal titian. (6) Itulah adanya. Perihal perintah Seri Sultan Anum Suria Ingalaga serta Pangeran Temenggung (7) Mangku Negara yang dijunjungkan baginda atas Depati Muda Pamuncak dan Depati Muncak (8) Negara itu, barang yang kusut beselesai, surang beragi, arta orang jangan diambil, arta (9) diri jangan diberikan kepada orang. Dan barang siapa membunuh memberi bangun, barangsiapa (10) melukai memberi pampas. Barang siapa kepanjing ke dalam sepancung sulanya Depati (11) Muda Pamuncak dan Depati Muncak Negara dan Depati Raja Simpan Bumi, Mangku Bumi dan (12) Depati Mendala Bumi dan Depati Pagar Bumi. Barang perintah dan barang hukum yang dilakukan (13) oleh depati yang bertiga sekedudukan dalam tanah kepala persembah itu, hukum Sultan dan Pangeran (14) lah yang dijunjungnya itu adanya. Hubaya2 jangan dilalui seperti yang di dalam cap piagam ini. (15) Dan barang siapa melalui perintah dalam piagam ini atau beraja hitam beraja putih, kena kutuk (16) Pangeran Temenggung kebul di balik bukit, tiang rumahnya ke atas, dan bubungannya ke bawah. (17) Demikian lagi masuk di dalam sumpah itu, barang siapa membunyikan arta raja yaitu emas (18) jatah jati rupa pelak indah, taring, mustika, canding dan gading yang baik (19) itulah arta raja yang dijagai oleh depati yang tiga sekedudukan. Itu petaruh (20) duli Sultan dan Pangeran adanya. Tammatul kalam bilchair wassalam.

Setelah Beberapa Tahun Kemudian Berangkat Depati Mangku Bumi Tuo Suto Menggalo dan Rajo simpan Bumi  Untuk memohon pembentukan kemendapoan tersendiri ke tanah jambi dengan mempersembahkan Bajang Harimau be Tali suto,tetapi permohonan beliau tidak dikabulkan

Ini adalah Bunyi Piagam Penolakan Pangeran Temenggung berdirinya kemendapoan baru

) Bismillahi rrahmani rrahim. Ya ho wa ya man huwa ya talah ta’ala.
(2) Bahwa ini surat Depati Raja Simpan Bumi datang kepada Depati Tata
(3) Negara kepada Depati Uda Menggala kepada Depati Riyam(?) kepada Depati
(4) Turgumi kepada Depati Suka Beraja yang beroleh jasa yang beroleh
(5) ikamat dari dunia datang ke akhirat oleh karena negeri
(6) Sultan sudah binasa amba ra’yatnya sudah
(7) binasa sebabnya Depati Raja Simpan Bumi menjunjung
(8) titah Sultan Depatipun ilirlah ke Jambi patut
(9) akan ditinjau beta ke Jambi oleh Depati segala oleh setia
tiada berubah seperti dahulu kala jua. Tammat.

Kemudian Berangkat lagi Depati Intan memohon yang demikian kepada raja jambi tetapi beliau tidak di izinkan kembali pulang kekerinci walaupun beliau sudah mendapat persetujuan raja jambi. Melihat hal yang demikian maka seorang keturunan mangkudum semat yang bernama MatCatah berangkat lah menuju jambi dengan mempersembahkan se ekor siamang putih,tetapi setibanya di semurup siamang  itu di racun sehinnga beliau hanya mempersembahkan kulitnya saja. Permohonan Beliau juga di kabulkan oleh raja jambi tetapi  beliau hanya memberikan tanda berupa kain yang di sebut kain cabuh turki cindai agam bagumbak emas babaju perak.
Sepulang nya dari jambi Matcatah dipanggil oleh para depati semurup,karena mereka tidak menyukai terbentuknya mendapo baru maka Matcatah dipukul di sana sehinnga menimbulkan kemarahan beliau. hal inilah yang menyebabkan terjadi nya peperangan  antara semurup dengan siulak yang terjadi sekitar 400 tahun lalu. Karena menimbulkan Banyak Korban Jiwa di pihak semurup dan kerugian besar Maka oleh Raja Jambi di utus lah Depati Kartanegara untuk menyelesaikan Masalah Tersebut sekaligus meresmikan berdirinya Mendapo Tanah Sekudung dengan Memberikan Piagam Sebagai berikut

1. Piagam Di perlihat Kan kepada depati Kepalo sembah kemudian di simpan oleh Depati Intan berikut bunyi Piagamnya
(1) Yang membawa surat ini Kiai Depati Yang Karta (Nanggaro)
(tambahan: itulah wakil segalo raja2)
(2) Bahwa ini ‘alamat surat Pangeran Temeng(gung)
(3) Serta dengan Sultan sampai kepada depati dalam
(4) tanah Sulak seperkata ecap dengan surat yang
(5) dibawa oleh Puanku Sidi lmu’min itulah
(6) kata yang sebenar: seka depati kembali kepada depati
(7) seka menti kembali kepada menti. Itulah karang
(8) setia orang tuha yang dahulu2 jangan
(9) diubahkan jikalau diubahkan aku lutar
(10) dengan dendo pecat seka………………..
(11) depati…….tiada p………………………
(12) kepada raja2…………………………….

2. Piagam ini Di berikan Kepada Depati Intan di siulak Mukai dengan Gelar Depati Intan Kumbalo Bumi Kum Segalo Bumi Rajo
Cap: Ini cap Pangeran Suta Wijaya.
(1) H iddrat al-N abi salla llahu ‘alaihi wasallam seribu seratus enam (belas?)…………..
(2) jan kepada sehari bulan Zulhijjah kepada ketika lahir (?)………….
(3) Suta Wijaya menggaduhakan piagam kepada Dipati Intan Gemala Bumi dengan merah me(nteri)…………….
(4) delapan dengan pemangkunya dan dengan pegawai(?)nya serta dengan cupak gantangnya dan dengan………………
(5) dan dengan sa(n)dang sakinnya dan dengan petan tanahnya dan dengan silang…………
(6) Tebing Tinggi mudiknya hi(ng)gan Danau Bento. Barang siapa tidak menurut perintah Dipati……………
(7) Gemala Bumi didendanya oleh Depati Intan Gemala Bumi. Itulah titah duli Pangeran………
(8) dia menyebutkan cacahnya (?) atau sarahnya (?) kepada duli Pangeran Suta atau berubah tuan (?) lain……………
(9) cecang (?) duli Pangeran Suta
(10)
(11)
(12) siapa mengobahi separti di dalam piagam ini dimakan sumpah………..deli Pangeran Suta………….
(13) dahulu itu. Selama gagak hitam selama kuntul putih selama air hilir selama langit………
(14) terbang, bubungannya ke bawah dan tiangnya ke atas dan dimakan bisa kawi duli kena Senapak (?)…………..
(15) Panembahan di bawah saea dan duli Pangeran Temenggung dan duli Pangeran Dipa dan duli Pangeran………………….
(16) Barang siapa mungkir dimakan Kur'an yang tiga puluh juz. Jikalau dia tidak mengubah seperti……………..
(17) piagam ini diselamatkan Allah ta’ala dia dan barang diperolehnya diba………….
(18) Subhanahu wata’ala.

Piagam Kedua

Hijrat seribu seratus tiga puluh satu tahun. Ini cap serta surat pada……..Pangeran Temenggung…………ta dan …………hingga batu gedang bajajar dua dipatinya kepada Dipati Intan Maro Masume nya dia sampai ladeh Gunung Berapi. Ingat jajar serajo tuntut gedang hijrat seribu seratus tiga puluh satu tahun.

2. Piagam Ini di Berikan Kepada Depati Mangku Bumi tuo Suto Menggalo dan Rajo Simpan Bumi di Siulak Gedang dan kepada Mat Catah Gelar Depati Mangku Bumi kulit Putih Suko Dirajo di Siulak Panjang
Berikut Bunyi Piagam nya

(1) Ini surat gengang (2) depati batiga menteri yang (3) berempat, tegak tiada (4) tersundak mekungkung (5) tiada tepapah. (6) Ingatkan undang (7) dan niti. Ingatkan (8) oleh Depati Mangku (9) Bumi jiko disiakan (10) oleh depati yang batiga (11) menteri yang berempat kena (12) Pangeran Temenggung (13) kebul di Bukit adanya (14) Wallahu a’alam bissawal.

Piagam Kedua
Bahwa ini surat cap celak piagam yang dijunjungkan oleh Seri Sultan Anum Suria Ingalaga serta Pangeran Temenggung Mangku Negara kepada Depati Raja Simpan Gumi, Dipati Intan, Dipati Mangku Gumi. Hilir sehingga Tebing Tinggi, mudik tersekut ke Gunung Berapi, ialah depati yang batiga punya, serta anak jantan anak betinonya, sebatang larisnya, setitik airnya, sekapan tanahnya, ialah depati yang batiga punya, Dipati Raja Simpan Gumi, Depati Intan, Depati Mangku Gumi. Itulah gedang yang bertiga berat sama2 dipikul, ringan sama2 dijinjing adanya.
Perihal perintah Seri Sultan Anum Suria Ingalaga serta Pangeran Temenggung Mangku Negara yang dijunjungkan baginda atas dipati yang bertiga sekedudukan, barang yang kusut beselesaikan, surang beragih, harta orang jangan diambil, harta diri jangan diberikan kepada orang. Barang siapa membunuh memberi bangun, barang siapa melukai memberi pampas. Barang siapa kepanjing ke dalam sepancung sulanya dipati yang bertiga. Barang perintahnya dan barang hukumnya yang dilakukannya itu, hukum Sultan dan Pangeran yang dijunjungnya itu adanya.
Hubaya2 jangan dilalui seperti yang di dalam cap piagam ini. Dan barang siapa melalui perintah dalam piagam ini atau beraja hitam beraja putih kena kutuk Pangeran Temenggung kebul di bukit, tiang rumahnya ke atas, bubungannya ke bawah. Demikian lagi sudah lama sumpah ini, barang siapa menyuri………………..menyembunyikan kato rajo yaitu emas jatah jati serupa (?) pelak (?) indah taring mustiko, itulah larangan (?) dari Sultan dan Pangeran. Intaha tammat alkalam.

Piagam ke Tiga

Cap: Ini cap Pangeran Suta Wijaya
(1) Bahwa ini piagam daripada duli Pangeran Sukarta Negara yang digaduhkan kepada Depa(ti)……………..ngk………………..
(2) singga kaki gunung Berapi hilir sehingga Tebing Tinggi mudik dan sehelai daun kayu dan seekor………………..(menurut salinan: dan setitik air sebatang laras sekepal tanah ialah Depati Mangku Bumi Tuo Suta Nenggala)
(3) di dalam kurung itu melainkan kepada Depati Nangku Bumilah empunya suka (menurut salinan: segala) daripada tanah airnya dan kayu………………..
(4) secupak segantangnya semerah sementerinya seanak jantan seanak betinanya (tambahan pada salinan: sepadinya jatah jati)……………..
(5) denda setianya indah pelak jatah jati rupa taring mustika……………..
(6) melindungkan……….setia oleh raja serta denda panjat……….menterinya atau (?) cupak gantangnya……..
(7) melingungkan terdenda oleh Depati Mangkubumi Suta Menggala. Hubaya2 jangan dilalui. Tammat al kalam.

Catatan: bunyi piagam nya bersal dari situs ipll.manoa.hawaii.edu


Comments

ARI WAHYUDI said…
blog yg bermanfaat dlm menambah wawasan dan pengetahuan,namun tolong sdr luruskan tentang tulisan artikel diatas yaitu tentang : Dipati Muda di Tanah Rawang yang diberi Pusaka Tumbak Bejanggut Jenggi Bagumbak Emas. Karna Pusaka tersebut adalah miliknya RIO JAYO Sungai Penuh yang dijemput sendiri oleh Rio Jayo ke Jawa Mataram yang sebelumnya Rio Jayo mengalahkan hulubalang Jawa Mataram dalam sebuah pertarungan lalu diberi Pusaka Tumbak Belang Berjanggut Jenggi Bergumbak Emas oleh Penguasa Jawa Mataram ketika itu, pusaka itu dibawa balik ke Kerinci. Ketika Raja Jambi naik ke Kerinci, pusaka ini dibawa ke Sanggaran Agung tempat pertemuan Raja Jambi dengan Depati Alam Kerinci, karena Sungai Penuh bergelar sebagai Pugawe Rajo Pugawe Jenang, maka ditinggalkanlah tanda pusaka Tumbak Belang Bejanggut Jenggi ini di Sanggaran Agung, lalu Rio Jayo kembali ke tanah Jawa Mataram untuk menjemput kembali Pusaka yang peris sama (duplikat kembarannya), Duplikat ini dibawa lagi balik ke Kerinci dan sampai sekarang masih tersimpan di Rumah Gedang RIO JAYO Sungai Penuh dan selalu diturunkan untuk dibersihkan lalu di arak ke tanah mendapo setiap acara Kenduri Sko, bukti fisik dan tambo sejarah dan cerita turun temurun dari Tumbak Belang Bejanggut Jenggi Bagumbak Emas di Tanah Sungai Penuh Pugawe Rajo Pugawe Jenang sampai sekarang masih nyata dan jelas adanya, jadi tolong sdr klarifikasi kepada Depati Mudo Rawang sejak kapan mereka punya Pusaka Tumbak Bejanggut Jenggi Begumbak Emas..., terimakasih
This comment has been removed by the author.
Terima Kasih, Komentarnya
Dalam Tambo huruf Arab melayu Milik Depati Mangku Bumi Tuo Kulit Putih Sibo Derajo dusun Siulak Panjang
tertulis begini
....Pasal yang manyatakan Mandapa Nan Salapan...........
Kemudian dari pada itu di terangkan pula mandapa nan Salapan
Mana Lah Utas dan Watas Dipati empat dengan Salapan helai Kain
Ke bawah Arun dalam Keatas Tebing Tinggi Tanjung Baringin Pulai Gading Kayu Embun berjajar Tigo
Kalau sehingguk itu Hilir ingatkan Depati Empat, kalau Sehingguk Itu Mudik Ingatkan salapan helai Kain. kalau Tanah Sudah bagabung, Sungai Sudah Babatang, Genggam Sudah baruntuk, Ingat Karano Masing-masing
Manalah dikatakan mendapa nan Salapan
Paratamo di Saliman
di Kaduo di Tanah Hiang
Di katigo di Penawar
di Ka empat di Tanah Rawang
Dipati Muda batarawang Lidah ada Pusaka tataruh situ Tumbak Bajanggut Jenggi, bagumbak mas, Babaju pirak, Urang Manaruh Mandapa Tap.
Kalima di Samurut
Kaanam di Karamantan
Katujuh Dipati Tujuh
Ka salapan Tanah Rawang
Dipati Punjung Sapenuh Bumi Urang Manaruh Mandapo balun................

Mengenai Pusaka Tombak Bajanggut jenggi ini sendiri ada beberapa Wilayah Adat yang masih menyimpannya yaitu di Luhah Rio jayo Sendiri dan ada Di Sandaran Agung. cek foto Petrus Voerhoeve.
Pusaka Kris Cindai Malilo Halus juga ada dibeberapa Kawasan Adat
Kris Lilo Panikam Batu juga disimpan dibeberapaKawasan Adat,
Kris Sepuh Derajat, jga ada di beberapa kawasan adat,

Suku Kerinci

Suku Kerinci

Popular posts from this blog

Sekilas Sejarah Perkembangan Islam di Kerinci

Oleh: Hafiful Hadi Sunliensyar

A. Masuknya Islam Ke Wilayah Kerinci

Agama Islam telah  masuk ke kawasan Kerinci sekitar  abad ke  14 M, hal ini dapat dilihat di dalam naskah Undang-undang Tanjung Tanah. Walaupun naskah undang-undang tersebut berasal dari Kerajaan Dharmasraya-Malayupura yang rajanya saat itu penganut Budha Tantrayana, namun sang raja mengirim seorang Khoja (Khwaja) sebagai diplomatnya dalam menjalin hubungan dengan para  Dipati di Silunjur Bhumi Kerinci. Pendakwah itu bernama "Kuja (Khwaja/Khoja) Ali Dipati" sebagaimana yang tertulis dalam naskah (Kozok, 2006).  Khoja atau Khawaja yang dalam tradisi Islam di India maupun Persia merupakan panggilan untuk seorang pendakwah beraliran Tasawuf/Thariqah. Dalam historiografi tradisional 'Kuja Ali Dipati' bahkan tidak diketahui dan tidak pernah disebut sebagai leluhur orang Kerinci, sebaliknya historiografi tradisional tersebut menyebut  enam orang ulama sebagai penyebar Islam di Kerinci pada periode abad 13…

Sejarah Negeri Jambi

Ikhtisar Sejarah Negeri Melayu Jambi
oleh Hafiful Hadi S

Rujukan Utama : Ikhtisar Sejarah Sepucuk Jambi Sembilan Lurah Oleh Usman Meng

Kepercayaan dan agama Suku Kerinci sebelum Masuknya Islam

Suku Kerinci  merupakan suku tertua di pulau sumatera Yang mendiami dataran tinggi kerinci termasuk kedalam Rumpun Proto Melayu,di duga berasal dari yunan dataran cina selatan. Di indonesia suku dayak,suku batak Dan Minangkabau memiliki kedekatan budaya dengan Suku kerinci.
   Sejak Ribuan tahun yang lalu suku Kerinci menganut sistem kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Dimana mereka beranggapan ada kekuatan spritual lain yang mengendalikan alam semesta. Kekuatan Lain tersebut menurut mereka adalah sebagai berikut
     1. Peri  sebagai penguasa angin dan elemen udara lainnya serta bersemayam di langit
      2. Mambang Sebagai penguasa Hujan dan elemen air serta bersemayam di Laut
ada beberapa enam mambang yang dipercaya oleh suku kerinci yaitu
Mambang bujangMambang GadihMambang PanyiwatMambang PanyangkitMambang PanjumbukMambang Panyambung       3. Dewo sebagai Penguasa hutan dan elemen tanah serta bersemayam di pegunungan atau  hutan larangan
Selain mempercayai hal tersebut,suku ke…