Rabu, 20 November 2013

Apakah Kerinci Termasuk Wilayah Minangkabau?

oleh Hafiful Hadi S

Tulisan ini sengaja saya  munculkan untuk menjawab pertanyaan2 dan meluruskan persepsi saudara sekalian mengenai keberadaan Suku Kerinci.   Baik, saya akan mulai dari beberapa artikel yang saya baca tentang Suku Kerinci dan saya mendapatkan beberapa poin penting
1. Suku Kerinci adalah salah satu suku tertua yang mendiami pulau Sumatera dan termasuk rumpun proto Malayu atau malayu tua jika kita berpedoman pada teori Migrasi dari Daratan China/IndoChina
2. Bukti tersebut dapat kita Lihat dari penyebaran Situs2 megalitikum di Wilayah Kerinci terutama di sekitar Danau kerinci dan kawasan dibawah Kaki Gunung kerinci yang telah berumur ribuan Tahun.
3. Para Ahli Anthropologi bahkan ada yang berpendapat suku Bangsa Kerinci lebih tua dari pada Suku Inka di Daratan Amerika.
4. Jika kita berpedoman pada teori Sundaland adalah Mungkin saja Suku Kerinci merupakan pecahan Suku yang selamat dari benua yang hilang itu.
 5. Kerinci sudah disebutkan dalam Catatan China dari Abad 2 M dengan Sebutan Koying negeri yang dingin, dilihat dari deskripsi catatan tersebut maka tepatlah Koying berada di kawasan Kerinci saat ini.

Nah bagaimana kaitannya Dengan Minangkabau?
sangat saya sayangkan  sejumlah pihak memasukkan Suku Bangsa Kerinci bagian dari suku Minangkabau, bahasa Kerinci bagian dari rumpun bahasa Minangkabau, Wilayah kerinci bagian dari wilayah Minangkabau.
saya mencoba memberi penjelasan mengenai pendapat pendapat diatas
a. Suku Bangsa Kerinci adalah salah Satu suku tersendiri yang ada di Nusantara ini, kenapa dimasukkan sebagai suku tersendiri ?
pertama, dari segi Bahasa, Suku Kerinci adalah salah satu penutur bahasa Austronesia dengan berbagai dialek yang berbeda dan terdapat beberapa kata pula yang berbeda di setiap daerahnya
kedua, Suku kerinci memiliki Aksara tersendiri namanya Aksara Incung yang dapat dilihat pada peninggalan Pusaka nenek Moyang Suku Kerinci
ketiga, Bangunan, Suku Kerinci memiliki arsitektur bangunan yang jauh berbeda dengan suku lainnya di Nusantara. hal ini dapat dilihat dari peninggalan Bilik (tempat menyimpan padi), Umah Lahik ( deretan rumah panjang yang menjadi hunian beberapa kepala Keluarga), masjid dan lain sebagainya.
ke empat, Sistem Kepercayaan, Suku kerinci sebelum Islam adalah penganut Animisme dan Dinamisme. sisa kepercayaan tersebut dapat dilihat dari ritual2 adat yang masih berlansung.
ke Lima, sistem kekerabatan, pada Umumnya Suku bangsa kerinci menganut Matrilineal artinya mengambil garis keturunan dari Pihak Ibu. dari kemiripan  sistem kekerabatan ini lah ada pendapat yang menyatakan Suku bangsa Kerinci bagian dari Minangkabau,dan saya tidak menyetujui pendapat tersebut. perlu diketahui ada 4 suku di dunia yang menganut sistem Matrilineal yaitu Suku Indian, Suku nakhi di Yunnan, Suku Khasi di India dan Suku Minangkabau termasuk beberapa Suku Kecil lain di Nusantara yang tidak dimasukkan. apakah anda mau mengatakan bahwa Suku Nakhi, Suku Khasi sebagai bagian Suku Minangkabau pula,tentunya tidak! setiap suku mempunyai karakteristik yang berbeda beda. atau mungkin pula Sistem Matrilineal di minangkabau di serap dari suku Kerinci? teori ini muncul karena menurut beberapa Ahli Suku Kerinci lebih tua dari suku Minangkabau yang deutro Malayu.
dari Segi Bahasa pun ada segolongan yang menyatakan bahasa kerinci bagian bahasa Minangkabau, padahal sebenarnya tidak, jika dilihat dari segi dialektika, perbendaharaan kata yang digunakan bahasa Minangkabau jauh beda dengan bahasa Kerinci walaupun terdapat sedikit persamaan di karenakan kedekatan wilayah, kata kata tersebut diserap karena adanya Interaksi dan Komunikasi dengan Suku2 lain  disekitar wilayah Kerinci. bila kita Lihat Suku Minangkabau di daerah Tapan memiliki dialek yang sedikit beda dengan bahasa Minangkabau umunya hal ini dikerenakan daerah Tapan berada di perbatasan antara Kerinci dan Bengkulu tentunya amat mempengaruhi bahasa daerah tapan tersebut.

Namun saya tidak memungkiri adanya hubungan kesejarahan antara dua Suku ini yaitu Kerinci dan Minangkabau dikarenakan Wilayah Huni nya yang berdekatan, adalah tidak mungkin rasanya kedua suku ini tidak berinteraksi dan berhubungan diantara keduanya.
Sejak kapan hubungan itu terjadi?
saya tidak dapat memastikannya, namun jika kita lihat Istilah kerinci/koying lebih duluan wujud daripada Nama Minangkabau. adapun nama Kerinci di sebut dalam catatan china abad 2 M dan didalam Kitab UU Tanjung Tanah Abad 13 M. sedangkan Minangkabau disebut dalam prasasti kedukan Bukit abad 7 M ( walaupun banyak Ilmuwan yang menolak bahwa yang ditulis dalam prasasti itu adalah Minangkabau ) dan  dalam Kitab NegaraKertagama abad 13 M. pendapat yang kedua lebih bisa diterima karena tidak ada pertentangan di dalamnya. maka saya berpendapat bahwa hubungan Suku Kerinci dan Minangkabau telah ada di abad 13 M tersebut. Suku Kerinci telah mengadakan hubungan dengan Kerajaan Dharmasraya yang termasuk wilayah Minangkabau sekarang, dan Kerajaan Indropuro yang bagian Wilayah Minangkabau pula. saat itu lah rentang periode yang amat panjang bagi suku2 tersebut saling berInteraksi satu sama lain baik dalam Hubungan Dagang, Hubungan perkawinan dsb, maka tidaklah heran di dalam Naskah2 Tambo Kerinci terdapat beberapa nama nenek moyang yang berasal dari Minangkabau terutama pagaruyung yang pada mulanya merantau di Kerinci kemudian kawin dan Menikah dengan Orang Asli kerinci kemudian beranak pinak( Sebagian besar nama nenek Moyang yang berasal dari Minangkabau dalam tambo tersebut adalah nama laki2). tetapi status mereka hanyalah sebagai semendo,anak2 mereka tetaplah Suku kerinci disebabkan Sistem Matrilineal Yang digunakan oleh Suku Kerinci.Diketahui pula bahwa Wilayah Kerinci merupakan salah satu wilayah tujuan rantau suku Minangkabau,tetapi wilayah Minangkabau bukanlah tujuan Rantau Suku Kerinci sehingga sedikit sekali nampak pengaruh kerinci di sana  kecuali didaerah Tapan, Orang2 Kerinci menjadikan semenanjung Malaya/malaysia sebagai Rantau Utamanya bahkan sampai sekarangpun kemudian Daerah Jambi seperti Tanah Tumbuh, Batang Asai, Tebo, dan Muaro jambi, daerah Rejang Lebong juga menjadi tujuan  Rantau orang2 Kerinci.
Dan Kerinci pada Akhirnya bukan pula bagian Wilayah Minangkabau baik dalam sistem pemerintahan adat maupun Pemerintahan sekarang ini.
 Dalam Sistem pemerintahan Adat, Batas Wilayah Kerinci di bunyikan Jelas dengan wilayah Minangkabau,seperti yang berbunyi dalam Tembo Kerinci berikut



Kudateh bukit kepak, kubawah tempat ngabi aceh, atiyo bayo teruh kumaro sekungkung mati, lepeh kumaru sungai dereh, teruh kebalai beratap ijuk dikoto tuo, mendaki bukit sepunjung teruh ke karamanio ta tepat ke gunung bujang, jalan teruh betung belarik terjun kearun dalam, teruh ke telun berasap, lepeh ke lubuk buih baratemu Rio Mungempai, rio mengundan duduk bajuntai diateh aka, Gela Panglimo Sirah Mato, itu tunggu ulu Sungai Tabir.

Kalu sehinggo itu kiun ingatklan dio nian, kalu sahinggo itu kumahin ingatkan kito ( Batas Dengan Wilayah Dharmasraya ).

Tasiku gunung gurapi teruh ke gunung tirai embun lepeh ke bukit amparan kain, teruh ke gungung kuduk jawi, lepeh ke batu sikai kambing, bara tamu dengan Yang dipatuan marajo bungsu, bagumbak putih bajanggut merah batulang abang, diam dilekuk sungai pagu, kalu sahinggo itu kiun ingatkan dio nian, kalu sahinggo itu kumahin ingatkan kito( Batas denga Kerajaan Sungai Pagu Alam Surambi Minangkabau).

Terjun ke  alu parindu teruh ke bukit lingkung badegun ke gunung bungkuk, kalu sahinggo itu kiun ingatkan urang pasimpan di koto enau, kalu sahinggo itu kumahin ingatkan kito ( Batas dengan wilayah Kerajaan Koto Anau Minangkabau)

Terjun ke muaro telang nak menjelang sungai linguh, tarantak ke sako kecik, bartamu dingan  datuk Menti bendar sePuluh ( Indropuro)

Tatkalo maso agi dulu, cabikkan sirih temihkan pinang, ado buat dingan janji. sado berdamar kepalo tupai, sado ba ungko bakuau  itulah pegang dio nian(pegangan Datuk Menti)

Manolah pegang kito Tigo Luhah Tanah sekudung ( Kerinci)

Sado nang runyam kayu ksigi, sado bakayu kayu kemenyan, sado bukarau abang pipi,sado ba ayam gerugo hutan, sado babungo bungo rampai, bungo setundun sepeleh hari, itulah pegangan kito Tigo Luhah Tanah Sekudung.

Perjanjian diatas merupakan perjanjian yang unik karena tidak disebutkan batasan lansung. Tetapi saat itu wilayah datuk Menti banda limo puluh ditandai dengan adanya kayu damar,ungko,burung kuau(pada masa dulu orang Kerinci mengetahui telah memasuki wilayah diatas bila menemui salah satu tanaman atau hewan tsb)begitu pula sebaliknya wilayah kerinci ditandai dengan adanya Kayu kemenyan, kayu sigi,ayam hutan,burung abang pipi dan bunga sepelas hari).

Khusus dengan wilayah kerajaan Indrapura, Suku Kerinci pernah mengadakan perjanjian yang namanya Perjanjian Sitinjau Laut, yang pada akhirnya Perjanjian ini harus berakhir seiring berakhirnya pula Eksistensi Kerajaan Indrapura karena Penjajahan Belanda. berikut Isi Perjanjian tersebut


Tatkalo masi agi dulu Tuanku Berdarah Putih  bakudo irang, Rajo Mudo bakudo  orang ,diateh bukit paninjau laut lik bali baratap ijuk tatkalo motong kerbau sitengah duo tanduk, daging di makan karangsetiio disumpahkan lah bulat air dipamuluh lah beku kato dimupakat kato taserah kan urang surang, hukum jatuh patihah dibaco dua ditampung ado buat dingan janji.

Mano pegang kito Tigo Luhah Tanah Sekudung: megang kan gunung yang mamuncak, megangkan paruh yang amat teduh, megangkan padang yang amat ujo, megankan renah yang amt lueh, manolah pegang Tuanku Berdarah Putih, memegangkan laut yang balebuh, megangkan ombak yang tigo lidi, sehinggo guo kalam sabelah, sehinggo serentak air hitam, sehinggo sekilan air bangi, sehinggo patio daman kiun, sahinggo sapisau la pisau anyut, sehinggo au tembun nagari, sehingga kubur Puti andam dewi lepeh ketanjung pulau kersik.

Kalu terjun anak buah depati 4 dengan lapan lai kain, ke laut yang belebuh, ke umbak yang tigo lidi, kalu karam mintak diselam, kalau tatimbun mintak digali, kalunyo ka gunung mintak disigai, kalu ka langit mintak diasap, kalunyo naik anak buah yang batuah kealam kerinci ini, kalunyo anyut mintak dipinteh, kalunyo jatuh mintak disambut, kalunyu bah mintak dibangkit, kalunyu cundung mintak ditungkat, kalunyo luko mintak dipampeh, kalunyo mati mintak dibangun, kalu nak bubini isi adat isi pasko, nak lari tuang lamago, itulah buat dingan janji, tatkalo masi agi dulu, bekudi dalam karangsatio, hak milik ico pakai.

hal ini sesuai pula dengan Tambo Alam Minangkabau yang berbunyi

Dari Sirangkak nan badangkang
hinggo buayo putiah daguak,
sampai ka pinturajo Ilia
durian ditakuak rajo
.( Durian Takuak rajo terletak diwilayah Kerinci rendah Depati Setiyo Nyato batas paling hilir Wilayah Minangkabau)
Sipisau-pisau anyuik,
sialang balantak basi ( masih di wilayah seputaran Muko Muko dan Indropuro)
hinggo aia babaliak mudiak,
sampai ka ombak nan badabua.





Semoga Tulisan Ini bermanfaat Hendaknya! 


 



Comments
3 Comments

3 komentar:

Ramili Aja mengatakan...

Klau begitu kenapa gelar datuk atas nama penguasa kerinci kok ada,padahal gelar datuk itu dari minang kabau atau ada asal usul nya dari pagaruyuang,begitu juga nama nama penguasa kerajaan nya kok sama dengan minanang kkabaU,dan masalah tambo,dengan kata,ajo,klau kata ajo itu klau gak salah dari pariaman,,sebab kata ajo di tujukan ke orang yg lebih di tua kan,sebenar kekuasaan minang itu amat luas,tetapi masa penjajahan di robah oleh penjajah yg datang,karna sebagian kerajaan di takluk kan oleh penjajah,contoh kerajaan tailan pattani,atau tailan,seni budaya,tari piring gendang pakaian mirib dengan minang,sedangkan malaysia singapur dn brunai aja ada keturunan atau rajanya dari minang atau bagian dari minang,ini kerinci yg kecil gak di tapaki oleh minang,atau bisa jadi juga kerinci ini sebagian dari minang,nama nama daerah nya aja nama minang,atau hubungan,orang ini bersau dara satu keturunan,anak2 dari orang minang,mungkin tuhan yg tahu tentang itu,

Ramili Aja mengatakan...

Klau begitu kenapa gelar datuk atas nama penguasa kerinci kok ada,padahal gelar datuk itu dari minang kabau atau ada asal usul nya dari pagaruyuang,begitu juga nama nama penguasa kerajaan nya kok sama dengan minanang kkabaU,dan masalah tambo,dengan kata,ajo,klau kata ajo itu klau gak salah dari pariaman,,sebab kata ajo di tujukan ke orang yg lebih di tua kan,sebenar kekuasaan minang itu amat luas,tetapi masa penjajahan di robah oleh penjajah yg datang,karna sebagian kerajaan di takluk kan oleh penjajah,contoh kerajaan tailan pattani,atau tailan,seni budaya,tari piring gendang pakaian mirib dengan minang,sedangkan malaysia singapur dn brunai aja ada keturunan atau rajanya dari minang atau bagian dari minang,ini kerinci yg kecil gak di tapaki oleh minang,atau bisa jadi juga kerinci ini sebagian dari minang,nama nama daerah nya aja nama minang,atau hubungan,orang ini bersau dara satu keturunan,anak2 dari orang minang,mungkin tuhan yg tahu tentang itu,

Hafiful Hadi Sunliensyar mengatakan...

Gelar Datu, Datok, Datuk umumnya dipakai oleh masyarakat Melayu dan Austronesia ( Melayu Sumatera, Sulawesi, Pilipina, Melayu Semenanjung) tidak hanya dipakai oleh orang Minangkabau saja.

Ajo disini bukan ajo seperti di Pariaman. AJO berasal dari Kata Rajo, sebab masa dulu logat orang Kerinci tidak menyebut huruf R diawal huruf sehingga disebut dengan nama Rajo., Kata Lain iyalah Rumah diucapkan dengan Umah. Ajo bukan sebutan untuk orang yang lebih tua melainkan nama nenek moyang seperti Ajo Liko sebenarnya Rajo liko uang diturunkan sebgai gelar adat turun temurun