Rabu, 20 November 2013

Apakah Kerinci Termasuk Wilayah Minangkabau?

oleh Hafiful Hadi S

Tulisan ini sengaja saya  munculkan untuk menjawab pertanyaan2 dan meluruskan persepsi saudara sekalian mengenai keberadaan Suku Kerinci.   Baik, saya akan mulai dari beberapa artikel yang saya baca tentang Suku Kerinci dan saya mendapatkan beberapa poin penting
1. Suku Kerinci adalah salah satu suku tertua yang mendiami pulau Sumatera dan termasuk rumpun proto Malayu atau malayu tua jika kita berpedoman pada teori Migrasi dari Daratan China/IndoChina
2. Bukti tersebut dapat kita Lihat dari penyebaran Situs2 megalitikum di Wilayah Kerinci terutama di sekitar Danau kerinci dan kawasan dibawah Kaki Gunung kerinci yang telah berumur ribuan Tahun.
3. Para Ahli Anthropologi bahkan ada yang berpendapat suku Bangsa Kerinci lebih tua dari pada Suku Inka di Daratan Amerika.
4. Jika kita berpedoman pada teori Sundaland adalah Mungkin saja Suku Kerinci merupakan pecahan Suku yang selamat dari benua yang hilang itu.
 5. Kerinci sudah disebutkan dalam Catatan China dari Abad 2 M dengan Sebutan Koying negeri yang dingin, dilihat dari deskripsi catatan tersebut maka tepatlah Koying berada di kawasan Kerinci saat ini.

Nah bagaimana kaitannya Dengan Minangkabau?
sangat saya sayangkan  sejumlah pihak memasukkan Suku Bangsa Kerinci bagian dari suku Minangkabau, bahasa Kerinci bagian dari rumpun bahasa Minangkabau, Wilayah kerinci bagian dari wilayah Minangkabau.
saya mencoba memberi penjelasan mengenai pendapat pendapat diatas
a. Suku Bangsa Kerinci adalah salah Satu suku tersendiri yang ada di Nusantara ini, kenapa dimasukkan sebagai suku tersendiri ?
pertama, dari segi Bahasa, Suku Kerinci adalah salah satu penutur bahasa Austronesia dengan berbagai dialek yang berbeda dan terdapat beberapa kata pula yang berbeda di setiap daerahnya
kedua, Suku kerinci memiliki Aksara tersendiri namanya Aksara Incung yang dapat dilihat pada peninggalan Pusaka nenek Moyang Suku Kerinci
ketiga, Bangunan, Suku Kerinci memiliki arsitektur bangunan yang jauh berbeda dengan suku lainnya di Nusantara. hal ini dapat dilihat dari peninggalan Bilik (tempat menyimpan padi), Umah Lahik ( deretan rumah panjang yang menjadi hunian beberapa kepala Keluarga), masjid dan lain sebagainya.
ke empat, Sistem Kepercayaan, Suku kerinci sebelum Islam adalah penganut Animisme dan Dinamisme. sisa kepercayaan tersebut dapat dilihat dari ritual2 adat yang masih berlansung.
ke Lima, sistem kekerabatan, pada Umumnya Suku bangsa kerinci menganut Matrilineal artinya mengambil garis keturunan dari Pihak Ibu. dari kemiripan  sistem kekerabatan ini lah ada pendapat yang menyatakan Suku bangsa Kerinci bagian dari Minangkabau,dan saya tidak menyetujui pendapat tersebut. perlu diketahui ada 4 suku di dunia yang menganut sistem Matrilineal yaitu Suku Indian, Suku nakhi di Yunnan, Suku Khasi di India dan Suku Minangkabau termasuk beberapa Suku Kecil lain di Nusantara yang tidak dimasukkan. apakah anda mau mengatakan bahwa Suku Nakhi, Suku Khasi sebagai bagian Suku Minangkabau pula,tentunya tidak! setiap suku mempunyai karakteristik yang berbeda beda. atau mungkin pula Sistem Matrilineal di minangkabau di serap dari suku Kerinci? teori ini muncul karena menurut beberapa Ahli Suku Kerinci lebih tua dari suku Minangkabau yang deutro Malayu.
dari Segi Bahasa pun ada segolongan yang menyatakan bahasa kerinci bagian bahasa Minangkabau, padahal sebenarnya tidak, jika dilihat dari segi dialektika, perbendaharaan kata yang digunakan bahasa Minangkabau jauh beda dengan bahasa Kerinci walaupun terdapat sedikit persamaan di karenakan kedekatan wilayah, kata kata tersebut diserap karena adanya Interaksi dan Komunikasi dengan Suku2 lain  disekitar wilayah Kerinci. bila kita Lihat Suku Minangkabau di daerah Tapan memiliki dialek yang sedikit beda dengan bahasa Minangkabau umunya hal ini dikerenakan daerah Tapan berada di perbatasan antara Kerinci dan Bengkulu tentunya amat mempengaruhi bahasa daerah tapan tersebut.

Namun saya tidak memungkiri adanya hubungan kesejarahan antara dua Suku ini yaitu Kerinci dan Minangkabau dikarenakan Wilayah Huni nya yang berdekatan, adalah tidak mungkin rasanya kedua suku ini tidak berinteraksi dan berhubungan diantara keduanya.
Sejak kapan hubungan itu terjadi?
saya tidak dapat memastikannya, namun jika kita lihat Istilah kerinci/koying lebih duluan wujud daripada Nama Minangkabau. adapun nama Kerinci di sebut dalam catatan china abad 2 M dan didalam Kitab UU Tanjung Tanah Abad 13 M. sedangkan Minangkabau disebut dalam prasasti kedukan Bukit abad 7 M ( walaupun banyak Ilmuwan yang menolak bahwa yang ditulis dalam prasasti itu adalah Minangkabau ) dan  dalam Kitab NegaraKertagama abad 13 M. pendapat yang kedua lebih bisa diterima karena tidak ada pertentangan di dalamnya. maka saya berpendapat bahwa hubungan Suku Kerinci dan Minangkabau telah ada di abad 13 M tersebut. Suku Kerinci telah mengadakan hubungan dengan Kerajaan Dharmasraya yang termasuk wilayah Minangkabau sekarang, dan Kerajaan Indropuro yang bagian Wilayah Minangkabau pula. saat itu lah rentang periode yang amat panjang bagi suku2 tersebut saling berInteraksi satu sama lain baik dalam Hubungan Dagang, Hubungan perkawinan dsb, maka tidaklah heran di dalam Naskah2 Tambo Kerinci terdapat beberapa nama nenek moyang yang berasal dari Minangkabau terutama pagaruyung yang pada mulanya merantau di Kerinci kemudian kawin dan Menikah dengan Orang Asli kerinci kemudian beranak pinak( Sebagian besar nama nenek Moyang yang berasal dari Minangkabau dalam tambo tersebut adalah nama laki2). tetapi status mereka hanyalah sebagai semendo,anak2 mereka tetaplah Suku kerinci disebabkan Sistem Matrilineal Yang digunakan oleh Suku Kerinci.Diketahui pula bahwa Wilayah Kerinci merupakan salah satu wilayah tujuan rantau suku Minangkabau,tetapi wilayah Minangkabau bukanlah tujuan Rantau Suku Kerinci sehingga sedikit sekali nampak pengaruh kerinci di sana  kecuali didaerah Tapan, Orang2 Kerinci menjadikan semenanjung Malaya/malaysia sebagai Rantau Utamanya bahkan sampai sekarangpun kemudian Daerah Jambi seperti Tanah Tumbuh, Batang Asai, Tebo, dan Muaro jambi, daerah Rejang Lebong juga menjadi tujuan  Rantau orang2 Kerinci.
Dan Kerinci pada Akhirnya bukan pula bagian Wilayah Minangkabau baik dalam sistem pemerintahan adat maupun Pemerintahan sekarang ini.
 Dalam Sistem pemerintahan Adat, Batas Wilayah Kerinci di bunyikan Jelas dengan wilayah Minangkabau,seperti yang berbunyi dalam Tembo Kerinci berikut



Kudateh bukit kepak, kubawah tempat ngabi aceh, atiyo bayo teruh kumaro sekungkung mati, lepeh kumaru sungai dereh, teruh kebalai beratap ijuk dikoto tuo, mendaki bukit sepunjung teruh ke karamanio ta tepat ke gunung bujang, jalan teruh betung belarik terjun kearun dalam, teruh ke telun berasap, lepeh ke lubuk buih baratemu Rio Mungempai, rio mengundan duduk bajuntai diateh aka, Gela Panglimo Sirah Mato, itu tunggu ulu Sungai Tabir.

Kalu sehinggo itu kiun ingatklan dio nian, kalu sahinggo itu kumahin ingatkan kito ( Batas Dengan Wilayah Dharmasraya ).

Tasiku gunung gurapi teruh ke gunung tirai embun lepeh ke bukit amparan kain, teruh ke gungung kuduk jawi, lepeh ke batu sikai kambing, bara tamu dengan Yang dipatuan marajo bungsu, bagumbak putih bajanggut merah batulang abang, diam dilekuk sungai pagu, kalu sahinggo itu kiun ingatkan dio nian, kalu sahinggo itu kumahin ingatkan kito( Batas denga Kerajaan Sungai Pagu Alam Surambi Minangkabau).

Terjun ke  alu parindu teruh ke bukit lingkung badegun ke gunung bungkuk, kalu sahinggo itu kiun ingatkan urang pasimpan di koto enau, kalu sahinggo itu kumahin ingatkan kito ( Batas dengan wilayah Kerajaan Koto Anau Minangkabau)

Terjun ke muaro telang nak menjelang sungai linguh, tarantak ke sako kecik, bartamu dingan  datuk Menti bendar sePuluh ( Indropuro)

Tatkalo maso agi dulu, cabikkan sirih temihkan pinang, ado buat dingan janji. sado berdamar kepalo tupai, sado ba ungko bakuau  itulah pegang dio nian(pegangan Datuk Menti)

Manolah pegang kito Tigo Luhah Tanah sekudung ( Kerinci)

Sado nang runyam kayu ksigi, sado bakayu kayu kemenyan, sado bukarau abang pipi,sado ba ayam gerugo hutan, sado babungo bungo rampai, bungo setundun sepeleh hari, itulah pegangan kito Tigo Luhah Tanah Sekudung.

Perjanjian diatas merupakan perjanjian yang unik karena tidak disebutkan batasan lansung. Tetapi saat itu wilayah datuk Menti banda limo puluh ditandai dengan adanya kayu damar,ungko,burung kuau(pada masa dulu orang Kerinci mengetahui telah memasuki wilayah diatas bila menemui salah satu tanaman atau hewan tsb)begitu pula sebaliknya wilayah kerinci ditandai dengan adanya Kayu kemenyan, kayu sigi,ayam hutan,burung abang pipi dan bunga sepelas hari).

Khusus dengan wilayah kerajaan Indrapura, Suku Kerinci pernah mengadakan perjanjian yang namanya Perjanjian Sitinjau Laut, yang pada akhirnya Perjanjian ini harus berakhir seiring berakhirnya pula Eksistensi Kerajaan Indrapura karena Penjajahan Belanda. berikut Isi Perjanjian tersebut


Tatkalo masi agi dulu Tuanku Berdarah Putih  bakudo irang, Rajo Mudo bakudo  orang ,diateh bukit paninjau laut lik bali baratap ijuk tatkalo motong kerbau sitengah duo tanduk, daging di makan karangsetiio disumpahkan lah bulat air dipamuluh lah beku kato dimupakat kato taserah kan urang surang, hukum jatuh patihah dibaco dua ditampung ado buat dingan janji.

Mano pegang kito Tigo Luhah Tanah Sekudung: megang kan gunung yang mamuncak, megangkan paruh yang amat teduh, megangkan padang yang amat ujo, megankan renah yang amt lueh, manolah pegang Tuanku Berdarah Putih, memegangkan laut yang balebuh, megangkan ombak yang tigo lidi, sehinggo guo kalam sabelah, sehinggo serentak air hitam, sehinggo sekilan air bangi, sehinggo patio daman kiun, sahinggo sapisau la pisau anyut, sehinggo au tembun nagari, sehingga kubur Puti andam dewi lepeh ketanjung pulau kersik.

Kalu terjun anak buah depati 4 dengan lapan lai kain, ke laut yang belebuh, ke umbak yang tigo lidi, kalu karam mintak diselam, kalau tatimbun mintak digali, kalunyo ka gunung mintak disigai, kalu ka langit mintak diasap, kalunyo naik anak buah yang batuah kealam kerinci ini, kalunyo anyut mintak dipinteh, kalunyo jatuh mintak disambut, kalunyu bah mintak dibangkit, kalunyu cundung mintak ditungkat, kalunyo luko mintak dipampeh, kalunyo mati mintak dibangun, kalu nak bubini isi adat isi pasko, nak lari tuang lamago, itulah buat dingan janji, tatkalo masi agi dulu, bekudi dalam karangsatio, hak milik ico pakai.

hal ini sesuai pula dengan Tambo Alam Minangkabau yang berbunyi

Dari Sirangkak nan badangkang
hinggo buayo putiah daguak,
sampai ka pinturajo Ilia
durian ditakuak rajo
.( Durian Takuak rajo terletak diwilayah Kerinci rendah Depati Setiyo Nyato batas paling hilir Wilayah Minangkabau)
Sipisau-pisau anyuik,
sialang balantak basi ( masih di wilayah seputaran Muko Muko dan Indropuro)
hinggo aia babaliak mudiak,
sampai ka ombak nan badabua.





Semoga Tulisan Ini bermanfaat Hendaknya! 


 



Jumat, 08 November 2013

Misteri Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah (Naskah Melayu Tertua), Bukti telah Masuknya Islam di Kerinci

oleh Hafiful Hadi S
Sebelumnya Artikel ini Berjudul  "Misteri Kedangan Islam di kerinci"

Adapun tulisan ini dibuat sebagai  perbaikan Artikel sebelumnya yang berjudul " Sekilas Sejarah perkembangan Islam di Kerinci " - disarankan bagi anda membacanya terlebih dahulu-
(Dalam artikel tersebut saya menyebut bahwa Kerinci merupakan wilayah paling Akhir di sumatera yang menerima ajaran Islam sekitar abad 15 - 17 M. hal tersebut dilihat dari sisi Spritual masyarakat kerinci dimana sebagai penganut Islam yang taat tetapi masih mempertahankan tradisi nenek moyang.)
Bahwa keterangan diatas agaknya perlu saya ralat disebabkan beberapa bukti terbaru yang saya temukan. saya membagi dua periode kedatangan Islam di kerinci, periode pertama pada abad 12-13 M dimana Islam yang berkembang lebih bersifat mistik seperti Aliran Islam yang berkembang di Persia dan India dengan pembuktian yang terdapat dalam naskah Undang Undang Tanjung Tanah yang dibuat abad 13 M sezaman dengan kerajaan Dharmasraya. periode Kedua, pada abad 15- 17 M Islam dibawa oleh pendakwah dari Minangkabau, Aceh dan Jambi seperti dalam keterangan sebelumnya.

II. Periode kedatangan Islam  pertama sekitar abad 12 M

Bukti dari telah adanya Agama Islam di Kerinci pada abad 13 M adalah Naskah Undang2 Tanjung Tanah (UUTT). Naskah UUTT berasal dari  Dharmasraya yang diberikan untuk Depati-Depati di Bumi Kerinci guna Menetapkan Hukum didaerah tersebut. 
UU tj Tanah dibuat sekitar abad 13 M bertulis aksara pasca Pallawa (dari Halaman pertama Hingga Halaman 32) dan bertulis Aksara Incung pada halaman 33 dan 34 . Fakta-fakta Menarik yang ditemukan dalam Naskah tersebut adalah sebagai Berikut :

A. Dilihat dari Isi naskah halaman pertama dan beberapa halaman lainnya jelas sekali bahwa maharaja Dharmasraya merupakan seorang Penganut Budha.
berikut isi Halaman 30 dan 31 yang membuktikan bahwa maharaja Dharmasraya Penganut Budha
halaman 30


mmasraya //&//..// barang salah
silitnya, suwasta olih sidang ma-
hatmya samapta //&//
pranamya diwang cri samaleswarang
aum // pranamya cri sadiwam, trelu-
kyadipati stutim, nanadattru (?)\


halaman 31


dretang waki tnitri satrasamuksaya
m//..// // pranammya
nama, tunduk manyambah, sirsa na(ma) ka-
pala, diwa nama diwata, tre nama su-
rga damYa pratala, dipati nama la-
bih dreri pada sakalliyan
nama nama banyak, dretang na-



bisa dilihat kata kunci isi naskah halaman 31 memuat Istilah Diwata, tre nama surga dam ya pratala dsb merupakan Istilah istilah Agama Budha.


B. Naskah ditulis oleh Kuja Ali dipati dan Kuja Ali dipati di utus Ke Bumi Kerinci sebagai utusan Dharmasraya sebagaimana isi naskah ke 29



nyatnya titah maharaja dra
mmasaraya // yatnya yatna sidang ma-
hatmya sa-isi bumi kurinci
si lunju kurinci // sasta li-
kitang kuja ali dipati di-
waseban di bumi palimbang di ha…
dappan paduka ari maharaja dra-

dalam halaman tersebut disebutkan bahwa maharaja Dharmasraya Mengutus seseorang yang bernama Kuja Ali Dipati untuk mewakili Raja Menetapkan Hukum di Bumi Kerinci. Siapakah Kuja Ali ini? Kuja Ali atau Khoja Ali bukanlah nama yang biasa di pakai oleh Penduduk Nusantara apalagi di Dharmasraya yang penganut Budha. besar kemungkinan Khoja Ali berasal dari Persia atau India sebab nama seperti ini Lazim digunakan didaerah tersebut terutama yang beraliran Syiah atau penganut Islam. Khuja ali merupakan orang kepercayaan Maharaja Dharmasrya dan Juga sebagai pendakwah. kenapa Maharaja Dharmasraya mengutus seorang Muslim ke Bumi kerinci untuk menetapkan Hukum bukan Pendeta Budha atau sebagainya?
pertanyaan ini dijawab dengan beberapa alasan
1. Sebab masyarakat Kerinci abad 12 M sudah menganut Ajaran Islam yang dibawa oleh Mubalik dari negeri persia dan India 
2. perutusan Khuja Ali merupakan strategi  dari Dharmasraya untuk menjalin Hubungan Antara Dharmasraya dan Kerinci serta  strategi untuk memasukkan kerinci sebagai wilayah Sekutu Dharmasraya. Khuja Ali lebih diterima oleh masyarakat kerinci karena faktor keagamaan.

C. Walaupun dalam Naskah tertulis Denda Maling Tuak, Anjing, dan  Babi. Kita tidak bisa katakan bahwa Suku Kerinci belum Islam. Alasannya adalah sebagai berikut :
1. Tuak dalam bahasa Kerinci tidak bisa disamakan dengan Tuak yang memabukkan seperti yang kita kenal saat ini. kata Tuak  dalam bahasa Kuno Kerinci ini digunakan untuk menyebut  Air Nira Murni yang  berasal dari sadapan pohon enau atau aren,rasanya amat manis sekali dan Belum difermentasi. Air Nira ini sangat berharga sekali bagi suku Kerinci karena digunakan untuk upacara ritual, air Nira juga digunakan sebagai bahan untuk membuat gula dan sebagai bahan obat.
2. Anjing
Anjing merupakan binatang yang sering dipelihara oleh suku Kerinci bahkan sampai saat ini. Hal ini terjadi sebab Anjing dijadikan sebagai alat berburu dan melindungi padi serta Hasil pertanian suku kerinci lainnya dari Gangguan Hama Babi. Tanah Kerinci yang subur menyebabkan hampir seluruh Suku Kerinci pada abad 13 M bekerja sebagai petani dan peladang sehingga Anjing termasuk binatang Berharga untuk menjaga hasil pertanian mereka.
3. Babi
Naskah UU yang dibuat oleh Dharmasraya ini kemungkinan juga berlaku bagi daerah taklukan Dharmasraya lainnya. Dharmasraya  merupakan Penganut Agama Budha dan ada beberapa Suku yang masih menganut paham Animisme dan Dinamisme sebut saja Suku Anak dalam dan Talang Mamak yang mendiami daerah Dharmasraya dahulunya tentu Babi dihalalkan  bagi mereka. Perlu di kertahui Bahwa Naskah UUTT tidak dibuat diKerinci melainkan di Dharmasraya. Penguasa Dharmasraya tidak pernah menginjakkan kaki di Bumi kerinci tetapi hanya melalui utusannya Kuja Ali dipati kemungkinan penguasa Dharmasraya menganggap bahwa Kerinci sama dengan Kondisi diwilayah Dharmasraya yang beragam dan masih banyak yang penganut Animisme. Kata "Babi" didalam naskah adalah acuan yang amat lemah untuk menyatakan bahwa Kerinci belum Islam saat itu.


D. Kata "Allah" dan Gerak Allah di Lembar terakhir Naskah
temuan lain juga ditemukan dihalaman 33 dan 34 yang bertulis aksara Incung yang mrupakan Aksara Aseli Suku Kerinci berikut Bunyinya
halaman 33



………………………….
………………………….
………………………….
dangan mabuka ki(wa?)ka layang……….
mah……………. maka kita baca duwa …
m tujuh …………. juh kali si(?)
yang tujuh kali malam baca da-
ngan sacilas diri danga-

halaman 34

n sukacita cuci diri dan
sukacitahan hastari
kita, sahaya kita sakaliyan
sa… marabaya kita …ranak
kita barang siyapa nayapa……..
danya du…wa hini,…………..
guri hanu gara ‘allah hu-
wa huwa nallah amp



Didalam Isi naskah halaman 34 diatas terdapat kalimat "Gara'allah hu wa huwa nallah dst"  merujuk pada kata " Gerak Allah, Huwa Allah",dan bagian akhirnya tidak terbaca,menjadi bukti bahwa Suku Kerinci telah menganut agama Islam pada Abad 13 M, kemungkinan Isi naskah Halaman 33 dan 34 di buat di Kerinci dengan Menggunakan Aksara  Incung oleh pemegang Undang Undang tersebut atas perintah Depati di Kerinci. sedangkan Halaman lainnya yang menggunakan Aksara Pasca pallawa dibuat di Dharmasraya.

E. Misteri nama "Sanghyang Kemittan" yang ditulis di permulaan Naskah. 
Sanghyang Kemittan bukanlah Nama Dewa yang digunakan dalam Agama Budha ataupun Hindu. Sehingga Sanghyang Kemittan masih misteri adanya. hal ini juga dipertegas oleh peneliti Naskah UU Tanjung tanah Sendiri Uli Kozok dalam Bukunya yang berjudul "Undang-Undang Tanjung Tanah Naskah melayu tertua".

Bagaimana mungkin Suku Kerinci telah memeluk Islam sedangkan Kerajaan kerajaan besar di sekitarnya Masih kerajaan Hindu - Budha ?
Kemungkinan besar orang2 suku Kerinci menerima Islam dari pedagang Arab,Persia dan India melalui Kontak perdagangan. orang orang Kerinci telah aktif  melakukan perdagangan ke Pelabuhan pelabuhan besar terutama pelabuhan Muara Sakai di Inderapura yang notabenenya adalah Pelabuhan Besar  saat itu, dengan menempuh jalur jalur rahasia yang hanya diketahui oleh penduduk Kerinci.
Orang orang kerinci melakukan Barter secara rahasia dengan pedagang pedagang dari Arab,persia dan India, mereka menukarkan berbagai  hasil Bumi Kerinci seperti Getah kemenyan, Getah kayu Sigi, rempah rempah, Kulit Kina, gading Gajah dsb ( kebetulan pula komoditi utama yang dicari saudagar dari India, persia dan Timur Tengah,) dengan bahan bahan keperluan mereka seperti Kain Sutra ( Kain Suto), Kain Beludru (Kain Biludu), Besi, tembaga, garam dsb. dari Kontak dengan pedagang asing inilah "uhang kincai" pertama kali mengenal Islam

sedikit gambaran Orang Kerinci tempo Dulu bila pergi berdagang




kenapa Orang orang Kerinci sekitar abad 13 M melakukan perdagangan secara Sembunyi sembunyi melalui jalur2 rahasia yang hanya diketahui oleh suku Kerinci saat itu?
Hal ini dilakukan oleh nenek moyang Suku Kerinci dengan beberapa Alasan
1. Melindungi Wilayah Kerinci dari serangan kerajaan kerajaan besar di Sekitarnya seperti Malayu, Sriwijaya, Majapahit, Dharmasrya (yang akhirnya bersekutu dgn Kerinci). terutama setelah peperangan di Bukit Muara Telang Pulau Sangkar dengan Kerajaan Sriwijaya ( Sriwijaya tidak berhasil menaklukan Kerinci), Suku Kerinci makin Intensif menjaga kawasannya dari Penaklukan  dan  mengisolasi diri dari pengaruh Kerajaan besar di sekitarnya hingga beberapa abad berikutnya.
2. Tidak lain adalah untuk Menjaga Eksistensi Suku Kerinci dan segala Kebudayaannya dari pengaruh budaya budaya Asing walaupun dimasa masa Islam telah terjadi akulturasi.

Apakah Ajaran Islam di Kerinci pada Abad 13 M sama dengan Ajaran Islam yang lazim / yang dianut Suku Kerinci saat Ini ( Sunni) ?

Kemungkinan Ajaran Islam  yang dianut Masyarakat Kerinci pada abad 13 M hanya bersifat Konseptual saja, mereka saat itu hanya Mengenal Istilah Allah, Bagindo Rasulullah/Muhammad, Bagindo Ali (sayyidina Ali), Ajo Berail ( Jibrail ) dsb dan belum melaksanakan Syariat Syariat Islam. ditambah lagi Ajaran Islam yang mereka terima adalah Islam yang banyak dianut di kawasan persia dan India yang bersifat Mistik dan Sufistik. sehingga Ajaran ajaran ini dengan mudahnya diterima oleh sebagian suku Kerinci saat itu yang sebelumnya kebanyakan penganut Dinamisme dan Animisme. 
Seperti halnya Islam Kejawen di Jawa yang Lahir dari Tokoh Syeikh Siti Jenar (beberapa Riwayat menyatakan beliau berasal dari persia) dimana Islam  bercampur baur dengan Tradisi lama Jawa tanpa melakukan Ibadah sesuai ketentuan Syariat. begitu pula keadaan Islam yang dianut Suku Kerinci saat itu, mereka hanya Mengenal Allah dan Muhammad tetapi mereka masih melakukan Ritual ritual sesuai tradisi lama. Agama Islam berkembang di Kerinci terutama di Wilayah Sekitar Danau Kerinci dan selatannya pada Abad 13 M.
Pengaruh syiah juga besar dalam ajaran Islam masyarakat kerinci pada periode pertama ini,hal ini dapat dibuktikan dengan masyhurnya nama Bagindo Ali ( Sayyidina Ali bin Abi thalib) daripada sahabat nabi yang lainnya. nama Bagindo Ali juga sering terdapat dalam Mantra mantra Suku kerinci seperti dalam Mantra Sangga Bunuh, Mantra Tabin tubuh dan Tahan Jangat ( seperti dalam Pusaka Incung di mendapo Semurup terdapat nama Baginda Hali).
Kemudian kontak dengan Islam terputus sejak Abad 14-15 M sehingga Islam yang sedemikian telah mengakar dalam budaya Suku Kerinci.
Kontak suku  Kerinci dengan Dunia Islam Muncul kembali di Abad 16-19 M setelah Kerinci mengadakan Hubungan Multilateral dengan kesultanan Islam disekitarnya Seperti Indrapura, Jambi dan Minangkabau. Bahkan dalam Surat Piagam Sultan Jambi berisi seruan Kepada kepala Suku Kerinci untuk benar2 menegakkan Syara' dan meninggalkan tradisi2 lama yang bertentangan dengan Islam seperti Bertauh (Menari  antara Bujang dan Gadis yang bukan Muhrim), mengiringi mayat dengan Ratapan, nyanyian, Gung dan Kecapi, Besalih ( Melakukan Ritual terhadap arwah leluhur).
Baca Juga : Sejarah Kedatangan Islam di kerinci


Pengaruh Persia/arab dalam pakaian adat Suku Kerinci
Suku Kerinci                                                                    


                                          


Arab/persia
 







Suku Kerinci


          Arab/ Persia


Suku Kerinci

   


Arab/ Persia                                                


Dapat disimpulkan bahwa ketika Kerajaan Dharmasraya dan kerajaan kerajaan lain disekitar kerinci masih menganut agama Budha dan animism. Agama Islam Sudah dianut oleh sebagian suku Kerinci. Jadi, pada periode pertama yaitu sebelum abad 13 M, suku Kerinci telah menganut ajaran Islam yang diterima dari pedagang pedagang arab dan persia walaupun ajaran tersebut masih bercampur dengan kepercayaan lama. 
Semoga Artikelnya bermanfaat !!!