Senin, 18 Juli 2016

Naskah Surat Incung Pusaka Debai Saleh Jagung Batuah Dusun Baru Siulak

oleh: Hafiful Hadi Sunliensyar, S.Pd

A. Awal Penemuan
Naskah ini awalnya disimpan oleh Simpan Lamat alias Induk Kalimah yang merupakan pemakai gelar Debai Saleh di Larik Jagung Batuah Dusun Baru Siulak. Sebagai pemakai gelar "Saleh" yang merupakan gelar perempuan bagi "anak Batino" dalam Suku Kerinci, Simpan lamat bertugas sebagai pelaksana bermacam upacara-upacara ritual adat, pengobatan, dan ritual Asyeik. Namun ketika beliau wafat segala alat-alat ritual yang berada di dalam rumahnya dibuang oleh anak keturunannya dengan cara diletakkan dalam makam Ninek Debai yang berada diperbatasan Desa Dusun Baru Siulak dan Siulak Panjang, termasuk pula naskah Surat Incung ini.  Dikarenakan penulis masih punya hubungan geneologis dalam luhah Jagung Batuah dari kakek pihak Ayah maka penulis merasa punya tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga naskah ini.
B. Bentuk dan Fungsi Naskah
Naskah Surat Incung ini ditulis pada seruas bambu, dengan bagian ujung atas terbuka dan ujung bawah tertutup oleh ruas buku bambu sendiri. Selain berukir dengan tulisan-tulisan incung, pada bagian ujung atas dan bawah naskah terdapat motif geometris, flora dan fauna. Adapun fungsi naskah belum diketahui secara pasti, dari keterangan warisnya naskah bambu diletakkan disamping "Sangkak Luwen" dan sesajian balian di dalam bilik kamar. Namun, menurut Bakhtiar Anip, dulunya naskah-naskah Incung pada dua ruas bambu akan dilantunkan saat seorang bujang bertandang menemui gadis pujaan hatinya. Selain dilantunkan, naskah bambu tersebut juga diisi pasir oleh pemiliknya sehingga saat naskah incung dilantunkan, bambu juga menghasilkan bunyi dari gesekan pasir dan bagian dalam bambu ketika digerak-gerakkan oleh sang Khatib. Kondisi tulisan pada naskah ini relatif baik walaupun pada motif bagian bawah naskah banyak yang terkelupas.
C. Alih Aksara Naskah
1. Motif Geometris, Flora dan Fauna
2. Selanjutnya bunyi salinan naskah sebagai berikut:
Baris 1
[Ukiran bergambar burung sebagai penanda awal dari tulisan]
(H)ini surat urang pangigaw lagi tasisih lagi tasiray
Baris 2
lagi dibuwang  kanti sirapat bujang dangan ga-
Baris 3
dih hih tubuh badan aku buruk sukat sudah
Baris 4
halah untung calaka badan hih piya pu-
Baris 5
la hati kusut kapala paning badan litak panana
Baris 6
jauh sabab di ka-u hiya adik intan ma-
Bais 7
nawan ka-u haku galar burung sinaraw
Baris 8
gila ka-u panggila hati haku caya mata mangkuta hati
Baris 9
Ka-ung sudah mangambur ja-uh mangambik pabisan gatuk
Baris 10
ka-u niyan hanak datung ka-u niyan haku lawan
Baris 11
Barusik saja haku tinggan bapanuh hati tatkala mata hari

Sambungan tulisan naskah dibuat melintang dari arah tulisan sebelumnya pada ujung bagian bawah bambu atau ujung bagian kanan dari bambu

Baris 12
[Motif Geometris] jatuh sudah surat
Baris 13
Hincung Pangulu Bujang
Baris 14
Dalam Dusun Sulak

D. Terjemahan dan Penjelasan isi Naskah
Naskah ini berisi tentang ratapan seorang Penghulu Bujang yang bermukin di Dusun Sulak terhadap kekasihnya yang pada akhirnya telah memutuskan cintanya dan sang kekasih lebih memilih  "Pabisan Geto" atau anak "datung" nya sendiri (Anak lelaki dari Bibi sang kekasih), berikut bunyi naskah dalam Bahasa Indonesia:

"Ini Surat Orang Pengigau (pemimpi) lagi tersisih lagi tersirai(tercampak) lagi dibuang oleh kawan baik yang bujang maupun gadis (sesama remaja).  Aeh (bermakna meratap) tubuh badanku yang buruk Sukat, sudahlah untung celaka badan. Aeh, Kenapa pula hati kusut kepala pening badan letih pikiran jauh? sebab engkau wahai adik Intan Manawan, engkau aku gelari (engkau aku umpamakan) Burung Sinaraw (Sinaro/Simaro?) gila, engkau penggila hati cahaya mata mangkuta hati, engkau sudah menghambur jauh, memilih "Pabisan Geto" mu nian, memilih anak "Datung"mu nian, aku teman bermain saja, aku yang tinggal berbesar hati. Tatkala Matahari jatuh, Sudahlah surat Incung Penghulu Bujang didalam dusun Sulak"

E. Istilah-Istilah
1. Panana (Pengucapan: Panano tergantung dialek dusun masing-masing) berarti pikiran
2. Pabisan Gatuk (Pengucapan: Pabisan Gto) adalah istilah untuk menyebut anak dari saudara kandung laki-laki dari pihak ibu atau anak dari saudara kandung perempuan dari pihak bapak
3. Datung adalah istilah untuk menyebut saudara perempuan dari pihak bapak, atau istri dari paman
4. Hih/Aeh adalah kata-kata yang sering diucapkan sehari-hari memberikan penekanan ratapan seseorang

F. Dokumentasi


Kamis, 21 April 2016

Referensi tentang Sejarah dan Budaya Kerinci

Berbagai referensi sejarah dan budaya Kerinci bisa dilihat dan didownload disini

1. Peranan Kesultanan Jambi dalam Penyelesaian Konflik di Kerinci antara Wilayah adat Semurup dan Siulak pada abad 17-18 M,  lihat disini:
https://www.academia.edu/24045244/Peranan_Kesultanan_Jambi_dalam_penyelesaian_konflik_di_Kerinci_antara_wilayah_adat_Semurup_dan_Siulak_pada_abad_ke_17-18_M_Kajian_terhadap_beberapa_salinan_dan_transliterasi_naskah_piagam_dari_tambo_Kerinci_oleh_Petrus_Voorhoeve_

2.Ritual Asyeik sebagai Akulturasi antara Kebudayaan Islam dan Pra-Islam Suku Kerinci. lihat disini:
https://www.academia.edu/24462990/Ritual_Asyeik_sebagai_Akulturasi_Antara_Kebudayaan_Islam_dengan_Kebudayaan_Pra-Islam_Suku_Kerinci

3. Ragam Pakaian Adat di Wilayah Tigo Luhah Tanah Sekudung, lihat disini:
https://www.academia.edu/24541581/Ragam_Pakaian_Adat_di_Wilayah_Adat_Tigo_Luhah_Tanah_Sekudung

Boleh mengutip asal menyebut sumber! hargailah setiap tulisan dan karya ilmiah orang lain.

Senin, 08 Februari 2016

Sejarah Kerinci: Siulak Pada Zaman Kolonialisme

Siulak pada Zaman Kolonialisme
Oleh: Hafiful Hadi Sunliensyar, S.Pd

 Gambar 1. Haji Idris bin Haji Soetan Imam(bersurban di tengah) salah satu anak dari Haji Soetan Imam berfoto di depan Masjid Raya Siulak pada Tahun 1960-an

Pada tahun 1901 M, Terjadi pembunuhan terhadap 14 orang utusan yang dipimpin oleh Imam Marusa di dusun Lolo Gedang, utusan tersebut bertujuan berunding dengan Para Depati agar menerima tawaran Belanda yang hendak membangun loji dagang di Kerinci. Utusan tersebut dikirim oleh Sultan Dayat dari Muko-muko atas perintah controleur Indrapura Manupassa dan Resident Bengkulu. (Eman Canser, kerajaanairpura.blogspot.com).
Pada Tahun 1902 M, Regent Indrapura Sultan Rusli sekaligus menjabat Sultan Indrapura mengutus rombongan yang dipimpin oleh Sultan Iradat guna berunding dengan Depati IV dan VIII Helai Kain serta memberitahu agar rakyat Kerinci bersiap-siap menghadapi Belanda yang berniat hendak menaklukan Alam Kerinci. Sultan Iradat menyarankan agar rakyat kKerinci menerima kedatangan Belanda dengan damai, namun mendapat respon yang negatif dari rakyat Kerinci. (Eman Canser, Kerajaanairpura.blogspot.com)

Pada Februari 1903, Sultan Rusli mengirim lima pucuk surat melalui saudagar Kerinci di Tapan yakni Haji Bagindo Sutan dan Haji Abdurrahim dari Rawang, Haji Budin dan Haji Muhammad Dayat dari Sungai Penuh, serta Haji Muhammad Rasyid dari Semurup. Isi surat tiada lain untuk memperingatkan rakyat Kerinci bahwa Belanda akan segera masuk ke Alam Kerinci dan Supaya rakyat Kerinci tidak melawan, serta bersikap sebagaimana hari biasanya. Maret 1903, Pasukan Belanda berhasil masuk ke Alam Kerinci dan bermarkas di Rawang, selang sebulan setelahnya terjadi peperangan hebat yang berlangsung selama tiga bulan di Pulau Tengah, wal hasil ratusan anak-anak dan perempuan mati terbakar akibat dusun Pulau Tengah dibumihanguskan Belanda, Kerinci takluk pada Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. (Eman Canser, Kerajaanairpura.blogspot.com).

Pada Tahun 1904 M, Belanda mulai mengatur pemerintahan di Kerinci, Kerinci saat itu berada dibawah Keresidenan Jambi. Afdelling Kerinci sendiri memiliki dua onder distric yakni onder distric III Helai Kain, dengan pusatnya di Sandaran Agung, dan distric VIII Helai kain dengan pusatnya Sungai Penuh (Yakin, 1986). Onder distric VIII helai kain terbagi atas VIII kemendapoan yakni Kemendapoan Seleman, Kemendapoan Hiang, Kemendapoan Penawar, Kemendapoan Sungai Penuh, Kemendapoan Rawang, Kemendapoan Depati Tujuh, Kemendapoan Kemantan dan Kemendapoan Semurup.

Kemendapoan Semurup, berpusat di Sulak Gedang dengan Kepala Mendapo Pertama adalah Haji Sutan Imam dari Sulak Panjang pada Tahun 1904 M (wawancara, 2016). Pada tahun 1906, terjadi gerilya melawan Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Haji Oemar dari Jambi, beliau berhasil menggalang kekuatan dari beberapa dusun di Kerinci. Sulak di bawah komando Haji Soetan Imam mengirim beberapa hulubalang dan perbekalan. Namun, mereka kalah saat pertempuran di Pengasi, sehingga P.H. Oemar terpaksa mundur ke Tanah Tumbuh melalui Pungut. Akibat membantu perjuangan P.H. Oemar banyak dusun yang di denda membayar kerbau dan ribuan Gulden kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Pada Tahun 1918, terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan dusun Sulak Panjang, akibatnya terjadi perpindahan sebagian penduduk ke daerah-daerah lain di wilayah Sulak terutama di Koto Aro, Koto Rendah, Koto Kapeh, Sungai Batu Gantih, dan Tanjung Genting.

Pada Tahun 1921, Kerinci dimasukkan dalam keresidenan Sumatera Westkust dengan kerinci berada dalam Afdelling Kerinci Indrapura. Saat itu Kerinci berada dalam tiga onder distric yakni onder distric Kerinci Hilir, Onder Distric Kerinci Tengah dan Onder distric Kerinci Hulu (yakin, 1986). Kemendapoan Semurup pada tahun 1921 dipimpin oleh Haji Abdul Madjid atau lebih dikenal dengan nama Mendapo Rat Lamo dari Siulak Panjang (sekarang desa Koto Beringin). Pada Tahun 1932, Kemendapoan Semurup dipimpin oleh Haji Oemar dari Sulak Panjang, saat kepemimpinan beliau, Belanda memulai pembukaan perkebunan Teh di Kayu Aro. Pada Tahun 1940-1945 M Kemendapoan Semurup dipimpin oleh Haji Adnan dari Semurup (Wawancara, 2016). Setelah tahun 1945 M, Kemendapoan Semurup dibagi menjadi dua bahagian yakni Mendapo Semurup dan Mendapo Siulak. Mendapo Siulak berpusat di Sulak Gedang dengan kantor menempati Kantor Kemendapoan Semurup lama. Saat itu dipimpin oleh Kepala Mendapo Wali Syamsudin dari Dusun Siulak Kecil hingga tahun 1949 M

Pada Tahun 1949 terjadi Agresi militer Belanda dengan kawasan Siulak menjadi salah satu lokasi pertempuran utama, pasukan Gati saat itu dibawah pimpinan Kapten Marjusan dan Kolonel Burhanuddin berhasil lolos dengan menempuh rimba raya dari Siulak ke Hulu Kambang, Banyak warga sipil yang menjadi korban pembunuhan Belanda di Sulak Gedang di antaranya dua kakak beradik Nurdin dan Yakub. Pada Tahun 1960-an Kemendapoan Siulak dipimpin oleh Kepala Mendapo Wali Rasyid dari dusun Tanjung Genting hingga tahun 1969 M. Pada Tahun 1970 M, Kemendapoan Siulak di pimpin oleh Haji Mat Kiro dari Sulak Panjang hingga dihapusnya sistem Kemendapoan pada tahun 1979 M. (Wawancara, 2016).

Referensi:
1. Yakin, A. Rasyid. 1986. Menggali Adat Lama Pusaka Usang di Bumi Sakti Alam Kerinci. Sungai Penuh:cv. Andalas
2. Narasumber Abidin umur 86 Tahun Legiun Veteran RI Kerinci.
3. Catatan Sultan Iradat dalam peperangan di Kerinci. Dimuat oleh Eman Canser dalam http://KerajaanAirpura.blogspot.com. Diakses Tanggal 30 Januari 2016.


Catatan khusus:

1. Haji Oemar adalah anak dari Haji Sutan Imam yang sama-sama pernah menjabat kepala mendapo pada periode berbeda. Haji Oemar kemudian berputra Drs. H. Mohd. Awal Mantan Bupati Kerinci, serta tokoh Kerinci yang pernah menjabat di pemerintahan Dati I Prov. Jambi bersama-sama dengan Drs.Ec. Syarifuddin.
2. Nurdin dan Yakub yang terkorban saat agresi militer Belanda adalah menantu dari H. Oemar, beliau berdua di bunuh sebab beliau tokoh berpengaruh yang pernah mengenyam pendidikan di Sumatera Barat.
3. Tahun 1966 Sebenarnya Kemendapoan Siulak di pecah menjadi tiga Kemendapoan yakni Mendapo Siulak berpusat di Siulak Gedang, Mendapo Natahsari berpusat di Siulak Deras dan Mendapo percobaan Danau Bento yang semuany berada dalam Kec. Gunung Kerinci.
4. Sebenarnya di bawah afdelling adalah onder afdelling (distric). Sedangkan onder distric setara dengan kemendapoan. Namun, A. Rasyid Yakin dalam bukunya menyebut di bawah afdelling adalah onder distric.