Senin, 19 Mei 2014

Sistem Pemerintahan Kemendapoan di Alam Kerinci

Mendapo

Mendapo atau Mandapa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti Bangunan Tambahan. Istilah Mandapa tertulis dalam Kitab Nagarakartagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada abad 13 M. Berikut Istilah Mandapa dalam terjemahan Kitab tersebut :
Pupuh ke 8 Alinea ke 5
"Di Dalam, Sebelah selatan Manguntur Tersekat Pintu, Itulah Paseban. Rumah bagus berjajar Mengapit Jalan Kebarat, di sela tanjung berbunga lebat. Agak jauh disebelah barat Daya Panggung tempat berkeliaran Para Perwira. Tepat di Tengah-tengah Halaman Bertegak MANDAPA penuh burung ramai berkicauan.
Kemudian pada Pupuh Ke 9 Alinea ke 3
Di bagian Barat, beberapa Balai Memanjang sampai Mercudesa. Penuh Sesak Pegawai dan Pembantu serta para perwira penjaga. Dibagian selatan agak Jauh, beberapa Ruang, Mandapa dan Balai. Tempat Tinggal Abdi Sri Narapati Paguhan, bertugas Menghadap".
dari sini kita mengetahui fungsi dari Mandapa adalah tempat berkumpulnya para pembesar kerajaan Majapahit.

Adapun di Kerinci, Mendapo( Kemendapoan) ini berkembang menjadi suatu bentuk sistem pemerintahan dimulai pada Abad 13 M. kenapa digunakan Istilah Mendapo? Sebab Mendapo adalah  suatu tempat pertemuan para depati yang masih berhubungan secara historis dan Budaya atau masih berasal dari satu nenek moyang sama. para Depati ini memimpin dusun, Luhah atau negeri masing2. Kemudian para Depati ini membentuk suatu pemerintahan bersama yang kemudian disebut sebagai Mendapo.
Di Kerinci sendiri ada beberapa Mendapo awal. Di Luhah/Negeri/Dusunnya masing2 Depati masih memiliki kedudukan tertinggi namun dalam sebuah kemendapoan ada pembagian tugas diantara para Depati tersebut.
Mendapo di Kerinci adalah tempat kedudukan dari depati yang mengatur wilayah dalam lingkup kemendapoannya. Mendapo dipimpin oleh seorang Depati atau Gabungan dari beberapa Depati dari beberapa Dusun/Negeri yang berasal dari satu leluhur yang sama. Sinonim Dari Mendapo, Atau Pendapa adalah Paseban atau Waseban hal ini tertulis dalam Naskah Undang2 Tanjung Tanah.
Istilah Mandapa, Mendapo, Menapo dsbnya ini Lebih Tua bila di bandingkan dengan Istilah Depati /Adipati. Dalam diskusi teman2 dari Jawa terutama Dalam Group Kerajaan Majapahit WilWatikta bahwa Istilah Depati Di Jawa di Gunakan Setelah Masuknya Agama Islam di Jawa ( sejak Kerajaan Mataram Islam). JIKA kita menganggap bahwa istilah Depati ini di Adopsi dari Jawa maka zaman Depati itu bermula pada abad 16-17 M, tetapi ini Mustahil sebab Istilah Dipati ini sudah termaktub dalam UU Tanjung Tanah abad 14 M ( sezaman dgn Kitab Negarakertagama) besar Kemungkinan Istilah Adipati di Jawa berasal Dari Sumatera ( Kerinci). Dengan Demikian Mendapo dan Depati ini berasal dari periode yg sama. Saya tidak tahu kenapa ada periodesasi yang memisahkan antara Zaman Kedepatian dan Kemendapoan, padahal kedua2nya tidak bisa di pisahkan, sebab depati berkedudukan di tiap2 Mendapo yg di pimpinnya.

Kesimpulan : 
Kalau di Jawa mandapa bagian dari sebuah Bangunan Kerajaan/Kerato/Candi, di Kerinci Mandapo adalah suatu sistem pemerintahan yang merupakan gabungan dari beberapa Depati, yang sistem ini diteruskan saat zaman kolonial di Kerinci, bedanya saat itu sudah ada Kepala Mendapo yang dipilih masyarakat,

Undang yang Empat ( Undang-Undang yang berlaku di Kerinci Abad 17- 20 M

Masihkah berlaku? UU yang telah Usang dimakan Zaman,
ternyata lekang karena panas dan lapuk Karena Hujan,,,,

Undang2 yang Empat
1. Undang2 Luak
2. Undang2 Negeri
3. Undang2 Urang Dalam Negeri

4. Undang2 Yang Duo Puluh
Undang yang duo Puluh terbagi dua
1. Undang2 Yang Selapan
2. Undang2 yang duo Bleh

Undang2 yang Selapan terbagi duo
1. Undang2 empat didarat yaitu
Pua manyarungkuk
Lalang Manyarumun
Sepah Manambun
Reban batakuk
Anaknya Undang samun yang empat yaitu:
Samun Sidudun Duman
Samun Sibujang Duman
Samun SiMenti Duman
Samun Sigajah Duman
2. Undang2 empat diair yaitu
Layang2 manyapu Buih
lapang Sipangileh
Bruk Gedang Sipaninjau
Bujuk Peremban Batang
- Anak undang2 empat diair yaitu :
Bajamban Bajambun Aro
Tapian bapaga Malu
Padang Bapaga baso
Tebing Balingkek Dingan Undang
Lawannya Empat :
-Empat yang tinggal di Luar Negeri yaitu:
Siujek mulepi Air
Gunjing ditengah Koto
Hasut
Fitnah
-Empat Masuk dalam Negeri yaitu:
Parit babenteng dingan Pusko
Laman Busepai dengan adat
Rumah Gedang Busendi batu
Adat Busendi Bahaluan

Undang Undang Yang Duo Bleh
Terbagi Duo
1. Undang yang enam dahulu
2. Undang yang enam Kemudian

1. Undang2 Yang enam Dahulu
Menunjukkan Hukum Tuduh
Tuduh2 Uhang Ka ileng
Tampo2 Uhang kamalin
Sebab Anting Jatuh enggang tirebang
Sebab Gurun layu Gajah Nempuh
Lawannya Enam yaitu:
Uhang jalan bagageh gageh
Uhang Jalan Bagesak gesak
Dibao Pikat
Dibao Langau
Kno Isik Kno Anyang
Ado Uhang Mao Burito

2. Undang2 enam Kemudian
Menunjukkan Jalan cimo
Mako datang Sirangkeh kuning Siruncing Tanduk
cundung mato uhang banyak
ngepitnyo idak nyunjungnyo idak
Dunsanak idak Sudaro Bukan
uhang ado kahilangan
nyo ado nempuh situ
Taburunyo idak tikejanyo idak tasubok nyo idak, takurungnyo idak, taikek nyo idak taregapnyo idak
Harusnyo Kno Hukum menurut Undang yang biaso
Lawannya enam yaitu :
Uhang maling Mati diparanteh
Musang dapat gunggungnyo dapat
Takurung mati
Ado tando nya barautang
Kabayeng
Karambullah

Indar Bayang dan Indar Jati (Antara Mitos dan Fakta Sejarah Kerinci)

Suatu Keanehan
Naskah Surat Incung yang ditulis di Tanduk Kerbau dan Tanduk Kambing yang berasal dari Kemendapoan Hiang tak satupun tertulis Nama Indar Bayang dan Indar Jati. yang tertulis dalam naskah Incung itu adalah nama2 seperti : Lila Deraja, Bimbar Raja, Dipati Hiyang,Dayang Indah, Dayang Ramasah, Dara Dang Mas, Dara Lirak, Patih Suhan, Mata Salih, Dibalang Gayur dan Pamangku Malin Diman.
Kisah Indar Bayang dan Indar jati yang disebut berasal dari Pagaruyung turun di Gunung jelatang Hiang tinggi ternyata bersumber dari beberapa Naskah Arab Melayu (TK 143) dalam Kondisi masih baik dari Kemendapoan Kemantan. Di Kemendapoan kemantan sendiri banyak terdapat Naskah Arab melayu yang berasal dari Minangkabau dan Indrapura ( TK 140-142). Seperti diketahui Rajo Mudo dari kemantan yang berinisiatif mengadakan Hubungandan perjanjian dengan Minangkabau yang diwakili Tuanku Berdarah Putih di Bukit Sitinjau laut, agar Perjanjian itu dapat berlansung dan dipatuhi oleh rakyat Kerinci maka dibuatlah semacam legenda oleh Pihak Minangkabau yang menyatakan Indar Bayang dan Indar jati nenek Moyang orang Kerinci berasal dari Minangkabau, selain itu juga dikirimkan Tambo Sultan Nan Salapan yang isinya masih amat diragukan terkait nama2 sultan yang disebut didalamnya. Pihak Kesultanan berusaha Menghapus sejarah yang masih berkaitan dengan Tradisi Hindu-Budha dan Animisme dengan membuat berbagai dongeng palsu bertulis Arab Melayu kemudian diberikan Kepada Dipati Rajo Mudo di Kemantan. Dipati Rajo Mudo sendiri pernah membantu Kesultanan Indrapura saat berperang Melawan portugis dipulau Cingkuk. dan Mirisnya Misi Penggubahan Sejarah ini berhasil, berbagai dongengan diakui sebagai Sejarah nenek moyang.

TK = Tambo Kerintji, Sebuah Jurnal penelitian yang ditulis oleh seorang Pegawai Kebahasaan belanda bernama Petrus Vorhoeve dibantu seorang Guru asal Koto Payang bernama Abdul Hamid pada Tahun 1941. Penelitian tersebut sebagai lanjutan atas Laporan Pemerintahan kolonial L.C Westenenk yang sebelumnya telah mengirim beberapa Naskah Kerinci Ke Batavia.