Selasa, 01 April 2014

Celak Dan Piagam, Pengakuan kesultanan Jambi atas Kedaulatan Depati di Tanah Sekudung, Kerinci

Cap: Ini cap Pangeran Suta Wijaya. 
Bahwa ini piagam daripada duli Pangeran Sukarta Negara yang digaduhkan kepada Depati Mangku Bumi Suta Menggala. Sehingga kaki gunung Berapi hilir, sehingga Tebing Tinggi mudik dan sehelai daun kayu dan seekor Ikan dan setitik air sebatang laras sekepal tanah di dalam kurung itu melainkan kepada Depati Mangku Bumi lah empunya segala.


 Cap: Ini cap Pangeran Suta Wijaya. 
Hijrat al-N abi salla llahu ‘alaihi wasallam seribu seratus enam belas kepada sehari bulan Zulhijjah kepada ketika lahirnyaBahwa ini surat cap celak piagam yang dijunjungkan oleh Seri Sultan Anum Suria Ingalaga serta Pangeran Temenggung Mangku Negara kepada Dipati Raja Simpan Bumi, Dipati Intan, Dipati Mangku Bumi. Hilir sehingga Tebing Tinggi, mudik tersekut ke Gunung Berapi, ialah depati yang batiga punya, serta anak jantan anak betinanya, sebatang larisnya, setitik airnya, sekapan tanahnya, ialah depati yang batiga punya, Dipati Raja Simpan Bumi, Depati Intan, Depati Mangku Bumi. Itulah gedang yang bertiga berat sama-sama dipikul, ringan sama-sama dijinjing adanya.



Cap: Ini cap Pangeran Suta Wijaya.
Hijrat al-N abi salla llahu ‘alaihi wasallam seribu seratus enam belas
jan kepada sehari bulan Zulhijjah kepada ketika lahirnya.
 PangeranSuta Wijaya menggaduhakan piagam kepada Dipati Intan Kemala Bumi dengan merah menterinya, delapan dengan pemangkunya dan dengan pegawainya serta dengan cupak gantangnya dan dengan anak Jantan anak betinanyadan dengan sandang sakinnya dan dengan petan tanahnya dan dengan silang Sungainya, Hilir Hingga Tebing Tinggi Mudik Hingga Danau bento

Jumat, 28 Maret 2014

Jejak Majapahit dan Dinasti Mangkudum di Kerinci



Diketahui bahwa Tanah Sulak sudah di huni oleh suku Asli Kerinci sejak  Zaman Megalitikum hal ini dibuktikan dengan temuan temuan purbakala disekitar wilayah tersbut seperti di Goa Kasah yang ditemukan Lukisan Perempuan Berambut Panjang, Batu berupa kursi, Kapak Batu, serpihan obsidian yang diduga pernah ditinggali manusia prasejarah selain itu juga banyak ditemukan pecahan pecahan tembikar, guci, dan tempayan seperti yang ditemukan di Siulak Tenang, serta laporan laporan masyarakat temuan pecahan tembikar di sekitar perbukitan di Sulak,Begitu pula temuan menhir  sekitar Pendung Mudik lebih Kurang  5 Km dari Siulak Mukai. Dalam sebuah inskripsi Jawi (arab Melayu) disebut adanya Kedatangan tiga orang bersaudara dari Koto Batu Berpagaruyung. Koto Batu berpagaruyung ini adalah Kerajaan Pasumayam Koto Batu yang berdiri sebelum Kerajaan Pagaruyung . Tiga Orang Tersebut itu bernama Mangkudum Semat, Mangkudum Sakti dan Mangkudum Darat, seperti yang tersebut dalam inskripsi tersebut.
   "Tatkalo Sulak Belum banamo Sulak agi banamo  Rantau Kabun-kabun mako datang ninik batigo uhang paratamo Mangkudum Sati diyau Manepat di Koto Batu diyau balik koto limau Sering, Kaduo Mangkudum Semat diyau Menepat di Koto Jering , Katigo Mangkudum Darat diyau Manepat di Guguk tinggi barulang Mandi di Sungai keliki burusik di sungai lingkat diyau balik ka Betung Badarah"
 artinya : Tatkala siulak belum bernama Siulak masih bernama Rantau Berkabut maka datang nenek moyang bertiga orang pertama Mangkudum Sakti yang bertempat di Koto Limau Sering ( Sungai Penuh), Kedua Mangkudum Semat di Koto Jering, ketiga Mangkudum Darat bertempat di guguk Tinggi  berulang mandi di Sungai Keliki bermain di Sungai Lingkat beliau pulang ke Betung Berdarah ( Tebo ).
Dalam inskripsi tersebut dikatakan bahwa Mangkudum Darat awalnya tinggal di Tanah Sulak ( Guguk Tinggi itu sekarang berlokasi di Desa Sulak Panjang )yang  kemudian Hijrah ke Betung Berdarah ( Tebo Sekarang ). Adapun Mangkudum Semat itu bertempat  di Koto Tinggi ( Lokasinya sekarang dekat desa Koto Tengah Siulak belakang Guguk Tinggi, beliau kawin dengan Puti Sedayu disebut Pula Ninik Selayu  beliau memiliki dua orang keturunan yaitu Temenggung Tuo dan Rajo Liko. Adapun Temenggung Tua Kawin dengan Ninik Gento Meh anak dari Imam Bajelil ( Siak Jelil ) Kemudian  menetap di Siulak Panjang. Dari perkawinan Gento Meh dan Imam Bajelil memiliki Keturunan yaitu matcatah gelar Dipati mangkubumi, Salih Kuning Selayang Mirat, Salih Itam Bertap Bumi, Salih Kcik meandering Sati.
Kedatangan  dari Jawa Mataram
Tersebut pula kedatangan rombongan dari jawa Mataram yang diduga adalah para Prajurit2 majapahit yang menghindar  ke Kerinci setelah manaklukan Malayu ( Seperti dalam Kitab Negarakartagama, Tanah malayu, tebo, Dharmasraya, dst adalah daerah yang tunduk pada Majapahit. Menurut Haji Kadri Gelar Depati Intan Tengah Padang Tudung Negeri  Tokoh Adat Tanah Sekudung Sulak, rombongan tersebut antara lain Ratu Hitam, Diwo Nyato, Tebun Tandang, Karenggo Bungkuk, Lemutung Hitam, serta Lembuyung Tuo. Ratu Hitam dan Diwo Nyato ini sewaktu Ke Kerinci bertemu dengan Ninik mangkudum Semat. Oleh mangkudum Semat , Ratu Hitam dikawinkan dengan Anak Beliau Rajo Liko dan Diwo Nyato di angkat sebagai kemenakan. Diwo Nyato diberikan Tanah disekitar Mukai Hilir sekarang , anak keturunan dari beliaulah yang bergelar Depati Intan Tanah Mataram buktinya Rumah Gedang/ Rumah Adat di mukai Hilir menyimpan pusaka yaitu
“Umput Antai Umput Pusmat, Piuk Tanah Ksu Suaso Tanah Sikepan Jawa Mataram, Kain cabuh Talukih Cindai Agam sekali kipeh ka ile Nampak treh tarunjam ka tanah Abang “ Artinya Rumput Rantai Rumput Semat, Periuk Tanah Belanga Suasa, Tanah Sekepal Jawa Mataram, kain Cabus terlukis Cindai Agam sekali Kipas ke Hilir Tampak Pelangi yang terhunjam di Tanah merah.
Ratu Hitam selanjutnya digelari sebagai Salih Itam oleh Ninik mangkudum.
Adapun  Kerenggo Bungkuk, Lemutung Hitam, tebun Tandang dan Lembuyung tuo meneruskan perjalanannya Hingga ke jerangkang Tinggi dan menjadi penguasa disana. Hal Ini dijelaskan oleh Haji Rasyid yakin gelar Depati Kerinci dalam bukunya “Menggali Adat Lama Pusaka Usang”. Dibuku tersebut dikisahkan bahwa mereka (red; Karenggo Bungkuk, lemutung Hitam dan tebun Tandang) kalah sabung ayam dengan Sigindo batinting sehingga mereka harus menyingkir dari jerangkang Tinggi. Kerenggo bungkuk  di beri Tanah di Lubuk Paku dengan Gelar Menggung. Tebun tandang disekitar  dusun pondok dengan Gelar Mangku  dan Lemutung Hitam di Muak dengan gelar  RIo.

Selasa, 25 Februari 2014

Traditional Architecture of Kerinci Ethnic

Arsitektur tradisional Kerinci

Rumah Kerinci Klasik
Rumah Tradisional Kerinci biasanya dibuat berjejer rapi sehingga membentuk barisan yang rapi,dalam bahasa Kerinci disebut Larik atau Lahik.Ciri Khas Rumah Tradisional Kerinci adalah atap yang terbuat dari potongan kayu tipis persegi panjang atau terbuat dari Belahan Buluh ( Bambu) yang disusun rapi hal ini masih dijumpai pada tahun 1920 an. setelah pendudukan Belanda Atap Kayu kemudian ditukar dengan atap yang terbuat dari seng. ada beberapa Tipe Rumah Klasik Kerinci

1. Photo Rumah Larik ini diambil Tahun 1941 M oleh seorang Belanda P. Voorhoeve disana tertulis lokasinya Mendapo Hiang

2. Rumah Lahik di Lempur

                                       
3. Rumah Larik di Sekitar Keliling Danau Kerinci
                                         
4. Sisa Rumah Larik di Sungai Penuh dengan motif Keluk Paku, Selampit Tigo pada Bendul Jati
                                           
5. Rumah Larik di Desa Pulau Tengah memiliki atap Yang Lentik
6. Rumah Larik Di Dusun Siulak Panjang

7. Rumah Larik Kerinci, Lokasi Tidak di Ketahui
                                                                         

Lumbung Padi
Lumbung Padi dalam Bahasa Kerinci disebut Bilik, Bileik, Galuboa. Bilik dibangun dengan Kontruksi Kungkung yaitu Dinding nya Miring sehingga kelihatan mengembang ke atas. Bilik Memiliki pintu diatas dekat Bubungan. Bilik berfungsi untuk menyimpan Padi selama setahun menjelang Panen berikutnya. dulu setiap keluarga memiliki satu bilik tersendiri. Bangsawan kerinci memiliki ukuran Bilik yang lebih besar dibandingkan yang lainnya. berikut beberapa Bilik Padi

1. Bilik di Desa Siulak Panjang dengan Ukiran Keluk paku Tampuk kelapo di Pelasa/berandanya
2. Bilik Padi dengan Motif Ukiran yang Indah, Gambar ini diambil pada masa Kolonial belanda di Kerinci ( Lokasi Tidak Diketahui)
3. Bilik Padi Kerinci dengan Atap berupa potongan Kayu
4. Bilik Padi di desa Lolo Gedang dengan Kontruksi yang cukup Hebat
5. Bilik Padi di Desa Koto Petai dengan Motif Ular Nago
6. Bilik Padi di Desa Demang Sakti, Desa Dusun baru Siulak dengan Motif Ukiran Paku Rancang di Tiangnya
7. Miniatur Bilik Padi Kerinci ( Sumber : Mamanda Alimin Dpt https://www.facebook.com/alimin.dpt)