Kamis, 21 April 2016

Referensi tentang Sejarah dan Budaya Kerinci

Berbagai referensi sejarah dan budaya Kerinci bisa dilihat dan didownload disini

1. Peranan Kesultanan Jambi dalam Penyelesaian Konflik di Kerinci antara Wilayah adat Semurup dan Siulak pada abad 17-18 M,  lihat disini:
https://www.academia.edu/24045244/Peranan_Kesultanan_Jambi_dalam_penyelesaian_konflik_di_Kerinci_antara_wilayah_adat_Semurup_dan_Siulak_pada_abad_ke_17-18_M_Kajian_terhadap_beberapa_salinan_dan_transliterasi_naskah_piagam_dari_tambo_Kerinci_oleh_Petrus_Voorhoeve_

2.Ritual Asyeik sebagai Akulturasi antara Kebudayaan Islam dan Pra-Islam Suku Kerinci. lihat disini:
https://www.academia.edu/24462990/Ritual_Asyeik_sebagai_Akulturasi_Antara_Kebudayaan_Islam_dengan_Kebudayaan_Pra-Islam_Suku_Kerinci

3. Ragam Pakaian Adat di Wilayah Tigo Luhah Tanah Sekudung, lihat disini:
https://www.academia.edu/24541581/Ragam_Pakaian_Adat_di_Wilayah_Adat_Tigo_Luhah_Tanah_Sekudung

Boleh mengutip asal menyebut sumber! hargailah setiap tulisan dan karya ilmiah orang lain.

Senin, 08 Februari 2016

Sejarah Kerinci: Siulak Pada Zaman Kolonialisme

Siulak pada Zaman Kolonialisme
Oleh: Hafiful Hadi Sunliensyar, S.Pd

 Gambar 1. Haji Idris bin Haji Soetan Imam(bersurban di tengah) salah satu anak dari Haji Soetan Imam berfoto di depan Masjid Raya Siulak pada Tahun 1960-an

Pada tahun 1901 M, Terjadi pembunuhan terhadap 14 orang utusan yang dipimpin oleh Imam Marusa di dusun Lolo Gedang, utusan tersebut bertujuan berunding dengan Para Depati agar menerima tawaran Belanda yang hendak membangun loji dagang di Kerinci. Utusan tersebut dikirim oleh Sultan Dayat dari Muko-muko atas perintah controleur Indrapura Manupassa dan Resident Bengkulu. (Eman Canser, kerajaanairpura.blogspot.com).
Pada Tahun 1902 M, Regent Indrapura Sultan Rusli sekaligus menjabat Sultan Indrapura mengutus rombongan yang dipimpin oleh Sultan Iradat guna berunding dengan Depati IV dan VIII Helai Kain serta memberitahu agar rakyat Kerinci bersiap-siap menghadapi Belanda yang berniat hendak menaklukan Alam Kerinci. Sultan Iradat menyarankan agar rakyat kKerinci menerima kedatangan Belanda dengan damai, namun mendapat respon yang negatif dari rakyat Kerinci. (Eman Canser, Kerajaanairpura.blogspot.com)

Pada Februari 1903, Sultan Rusli mengirim lima pucuk surat melalui saudagar Kerinci di Tapan yakni Haji Bagindo Sutan dan Haji Abdurrahim dari Rawang, Haji Budin dan Haji Muhammad Dayat dari Sungai Penuh, serta Haji Muhammad Rasyid dari Semurup. Isi surat tiada lain untuk memperingatkan rakyat Kerinci bahwa Belanda akan segera masuk ke Alam Kerinci dan Supaya rakyat Kerinci tidak melawan, serta bersikap sebagaimana hari biasanya. Maret 1903, Pasukan Belanda berhasil masuk ke Alam Kerinci dan bermarkas di Rawang, selang sebulan setelahnya terjadi peperangan hebat yang berlangsung selama tiga bulan di Pulau Tengah, wal hasil ratusan anak-anak dan perempuan mati terbakar akibat dusun Pulau Tengah dibumihanguskan Belanda, Kerinci takluk pada Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. (Eman Canser, Kerajaanairpura.blogspot.com).

Pada Tahun 1904 M, Belanda mulai mengatur pemerintahan di Kerinci, Kerinci saat itu berada dibawah Keresidenan Jambi. Afdelling Kerinci sendiri memiliki dua onder distric yakni onder distric III Helai Kain, dengan pusatnya di Sandaran Agung, dan distric VIII Helai kain dengan pusatnya Sungai Penuh (Yakin, 1986). Onder distric VIII helai kain terbagi atas VIII kemendapoan yakni Kemendapoan Seleman, Kemendapoan Hiang, Kemendapoan Penawar, Kemendapoan Sungai Penuh, Kemendapoan Rawang, Kemendapoan Depati Tujuh, Kemendapoan Kemantan dan Kemendapoan Semurup.

Kemendapoan Semurup, berpusat di Sulak Gedang dengan Kepala Mendapo Pertama adalah Haji Sutan Imam dari Sulak Panjang pada Tahun 1904 M (wawancara, 2016). Pada tahun 1906, terjadi gerilya melawan Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Haji Oemar dari Jambi, beliau berhasil menggalang kekuatan dari beberapa dusun di Kerinci. Sulak di bawah komando Haji Soetan Imam mengirim beberapa hulubalang dan perbekalan. Namun, mereka kalah saat pertempuran di Pengasi, sehingga P.H. Oemar terpaksa mundur ke Tanah Tumbuh melalui Pungut. Akibat membantu perjuangan P.H. Oemar banyak dusun yang di denda membayar kerbau dan ribuan Gulden kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Pada Tahun 1918, terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan dusun Sulak Panjang, akibatnya terjadi perpindahan sebagian penduduk ke daerah-daerah lain di wilayah Sulak terutama di Koto Aro, Koto Rendah, Koto Kapeh, Sungai Batu Gantih, dan Tanjung Genting.

Pada Tahun 1921, Kerinci dimasukkan dalam keresidenan Sumatera Westkust dengan kerinci berada dalam Afdelling Kerinci Indrapura. Saat itu Kerinci berada dalam tiga onder distric yakni onder distric Kerinci Hilir, Onder Distric Kerinci Tengah dan Onder distric Kerinci Hulu (yakin, 1986). Kemendapoan Semurup pada tahun 1921 dipimpin oleh Haji Abdul Madjid atau lebih dikenal dengan nama Mendapo Rat Lamo dari Siulak Panjang (sekarang desa Koto Beringin). Pada Tahun 1932, Kemendapoan Semurup dipimpin oleh Haji Oemar dari Sulak Panjang, saat kepemimpinan beliau, Belanda memulai pembukaan perkebunan Teh di Kayu Aro. Pada Tahun 1940-1945 M Kemendapoan Semurup dipimpin oleh Haji Adnan dari Semurup (Wawancara, 2016). Setelah tahun 1945 M, Kemendapoan Semurup dibagi menjadi dua bahagian yakni Mendapo Semurup dan Mendapo Siulak. Mendapo Siulak berpusat di Sulak Gedang dengan kantor menempati Kantor Kemendapoan Semurup lama. Saat itu dipimpin oleh Kepala Mendapo Wali Syamsudin dari Dusun Siulak Kecil hingga tahun 1949 M

Pada Tahun 1949 terjadi Agresi militer Belanda dengan kawasan Siulak menjadi salah satu lokasi pertempuran utama, pasukan Gati saat itu dibawah pimpinan Kapten Marjusan dan Kolonel Burhanuddin berhasil lolos dengan menempuh rimba raya dari Siulak ke Hulu Kambang, Banyak warga sipil yang menjadi korban pembunuhan Belanda di Sulak Gedang di antaranya dua kakak beradik Nurdin dan Yakub. Pada Tahun 1960-an Kemendapoan Siulak dipimpin oleh Kepala Mendapo Wali Rasyid dari dusun Tanjung Genting hingga tahun 1969 M. Pada Tahun 1970 M, Kemendapoan Siulak di pimpin oleh Haji Mat Kiro dari Sulak Panjang hingga dihapusnya sistem Kemendapoan pada tahun 1979 M. (Wawancara, 2016).

Referensi:
1. Yakin, A. Rasyid. 1986. Menggali Adat Lama Pusaka Usang di Bumi Sakti Alam Kerinci. Sungai Penuh:cv. Andalas
2. Narasumber Abidin umur 86 Tahun Legiun Veteran RI Kerinci.
3. Catatan Sultan Iradat dalam peperangan di Kerinci. Dimuat oleh Eman Canser dalam http://KerajaanAirpura.blogspot.com. Diakses Tanggal 30 Januari 2016.


Catatan khusus:

1. Haji Oemar adalah anak dari Haji Sutan Imam yang sama-sama pernah menjabat kepala mendapo pada periode berbeda. Haji Oemar kemudian berputra Drs. H. Mohd. Awal Mantan Bupati Kerinci, serta tokoh Kerinci yang pernah menjabat di pemerintahan Dati I Prov. Jambi bersama-sama dengan Drs.Ec. Syarifuddin.
2. Nurdin dan Yakub yang terkorban saat agresi militer Belanda adalah menantu dari H. Oemar, beliau berdua di bunuh sebab beliau tokoh berpengaruh yang pernah mengenyam pendidikan di Sumatera Barat.
3. Tahun 1966 Sebenarnya Kemendapoan Siulak di pecah menjadi tiga Kemendapoan yakni Mendapo Siulak berpusat di Siulak Gedang, Mendapo Natahsari berpusat di Siulak Deras dan Mendapo percobaan Danau Bento yang semuany berada dalam Kec. Gunung Kerinci.
4. Sebenarnya di bawah afdelling adalah onder afdelling (distric). Sedangkan onder distric setara dengan kemendapoan. Namun, A. Rasyid Yakin dalam bukunya menyebut di bawah afdelling adalah onder distric.




Kamis, 26 Maret 2015

Lago Tanduk : Permainan Tradisional yang terlupakan dari Kerinci

Sejarah
Oleh : Hafiful Hadi S
Lago Tanduk atau sering juga disebut Ngadu Tanduk berasal dari kata "Lago" artinya Berlaga, beradu, sinonim dari kata "Ngadu", sedangkan Tanduk merujuk pada alat yang digunakan saat permainan yang berbentuk Tanduk Kerbau. Tanduk terbuat dari Bambu yang diraut kemudian dililit dengan kain berwarna Hitam dan Merah, diujungnya diberi Rumbai-rumbai dan Giring-giring.
Lago Tanduk berasal dari Dusun Siulak Panjang, salah satu desa tertua di Kawasan Tigo Luhah Tanah Sekudung, Kerinci. 
Pada Mulanya, Lago tanduk dilakukan setelah selesai Panen Padi oleh Bujang Gadis dulunya, Gotong Royong(Baselang) Nuai padi yang dilakukan setahun sekali ini disebut dengan Basembak Ahi Mudo, saat inilah para Bujang gadis dalam dusun Siulak panjang akan bergotong royong ( baselang)  nuai padi, di sawah-sawah orang tua mereka, sawah tertua berada disekitar Guguk Rendah. Nuai Padi biasanya diiringi saling berbalas pantun dan Tale antar Bujang Gadis, ada lagi diiringi Kunun Juge Bunsu Diwo Batinting untuk menambah semangat gotong royong dan sebagai hiburan saat Nuai Padi sehingga tidak terasa lelah. Nuai Padi biasanya dilakukan berkelompok-kelompok antar kelebu dalam dusun itu, setelah Selesai Nuai Padi, barulah Seorang Pemuda akan memasang Tanduk dikepalanya sambil Mencak ( seperti gerakan Silat) untuk mencari lawan ngadu Tandu dari kelompok lain. Setelah bertemu lawan main, maka Tanduk tersebut akan diadu dengan gerakan2 seperti gerakan silat dan enerjik disertai lompatan2 tertentu meniru gerakan Kerbau yang lagi diadu. Ujung Tanduk biasanya juga dipasang pisau Kecil, pemain yang menang adalah Pemain yang tanduknya tidak robek dan tidak rusak saat diadu. Ngadu tanduk juga diiringi oleh alat Musik yang disebut dengan Knong/Canang ( semacam Gong Kecil) yang dipukul bergantian serta alunan puput Serunai dari Bambu.
Selain setelah Nuai Padi, Ngadu Tanduk juga ditampilkan Saat kenduri Sko bedanya saat Kenduri Sko iringan musiknya berupa Dap ataupun Gendang, Gong serta Alunan Nyaho ( mantra memuji leluhur) dari Balian.
Menurut Orang Adat, asal usul Lago Tanduk berasal dari Legenda Bujang Agung dan Sutan Kalimbuk. Bujang Agung tertarik hatinya akan kecantikan Intan Jenun adik Sutan Kalimbuk, untuk menguji kesaktian Bujang Agung, Sutan Kalimbuk melepas Kerbau Jalang miliknya untuk menyerang Bujang Agung, dengan Sigap bujang agung memegang tanduk kerbau tersebut dan memutarnya hingga patah, kerbau tersebut akhirnya jatuh tersungkur, orang-orang yang menyaksikan bersorak mengatakan " Agung Nian Sedaro ini, Indah Nian Sedaro ini" akhirnya  Bujang Agung diberi gelar Depati Agung, Jindah Putih salah seorang nenek Moyang masyarakat Siulak Panjang.







Foto dibawah Ini bersumber dari Saudara Luke Mackin, URL FB : https://www.facebook.com/lukejmackin?fref=ts

                                               

Wawancara dari beberapa Tokoh Adat Desa Siulak Panjang