Kamis, 26 Maret 2015

Lago Tanduk : Permainan Tradisional yang terlupakan dari Kerinci

Sejarah
Oleh : Hafiful Hadi S
Lago Tanduk atau sering juga disebut Ngadu Tanduk berasal dari kata "Lago" artinya Berlaga, beradu, sinonim dari kata "Ngadu", sedangkan Tanduk merujuk pada alat yang digunakan saat permainan yang berbentuk Tanduk Kerbau. Tanduk terbuat dari Bambu yang diraut kemudian dililit dengan kain berwarna Hitam dan Merah, diujungnya diberi Rumbai-rumbai dan Giring-giring.
Lago Tanduk berasal dari Dusun Siulak Panjang, salah satu desa tertua di Kawasan Tigo Luhah Tanah Sekudung, Kerinci. 
Pada Mulanya, Lago tanduk dilakukan setelah selesai Panen Padi oleh Bujang Gadis dulunya, Gotong Royong(Baselang) Nuai padi yang dilakukan setahun sekali ini disebut dengan Basembak Ahi Mudo, saat inilah para Bujang gadis dalam dusun Siulak panjang akan bergotong royong ( baselang)  nuai padi, di sawah-sawah orang tua mereka, sawah tertua berada disekitar Guguk Rendah. Nuai Padi biasanya diiringi saling berbalas pantun dan Tale antar Bujang Gadis, ada lagi diiringi Kunun Juge Bunsu Diwo Batinting untuk menambah semangat gotong royong dan sebagai hiburan saat Nuai Padi sehingga tidak terasa lelah. Nuai Padi biasanya dilakukan berkelompok-kelompok antar kelebu dalam dusun itu, setelah Selesai Nuai Padi, barulah Seorang Pemuda akan memasang Tanduk dikepalanya sambil Mencak ( seperti gerakan Silat) untuk mencari lawan ngadu Tandu dari kelompok lain. Setelah bertemu lawan main, maka Tanduk tersebut akan diadu dengan gerakan2 seperti gerakan silat dan enerjik disertai lompatan2 tertentu meniru gerakan Kerbau yang lagi diadu. Ujung Tanduk biasanya juga dipasang pisau Kecil, pemain yang menang adalah Pemain yang tanduknya tidak robek dan tidak rusak saat diadu. Ngadu tanduk juga diiringi oleh alat Musik yang disebut dengan Knong/Canang ( semacam Gong Kecil) yang dipukul bergantian serta alunan puput Serunai dari Bambu.
Selain setelah Nuai Padi, Ngadu Tanduk juga ditampilkan Saat kenduri Sko bedanya saat Kenduri Sko iringan musiknya berupa Dap ataupun Gendang, Gong serta Alunan Nyaho ( mantra memuji leluhur) dari Balian.
Menurut Orang Adat, asal usul Lago Tanduk berasal dari Legenda Bujang Agung dan Sutan Kalimbuk. Bujang Agung tertarik hatinya akan kecantikan Intan Jenun adik Sutan Kalimbuk, untuk menguji kesaktian Bujang Agung, Sutan Kalimbuk melepas Kerbau Jalang miliknya untuk menyerang Bujang Agung, dengan Sigap bujang agung memegang tanduk kerbau tersebut dan memutarnya hingga patah, kerbau tersebut akhirnya jatuh tersungkur, orang-orang yang menyaksikan bersorak mengatakan " Agung Nian Sedaro ini, Indah Nian Sedaro ini" akhirnya  Bujang Agung diberi gelar Depati Agung, Jindah Putih salah seorang nenek Moyang masyarakat Siulak Panjang.







Foto dibawah Ini bersumber dari Saudara Luke Mackin, URL FB : https://www.facebook.com/lukejmackin?fref=ts

                                               

Wawancara dari beberapa Tokoh Adat Desa Siulak Panjang

Kenduri Sko Empat Jurai Dusun Koto Rendah, Siulak Kabupaten Kerinci

Sejarah

Dusun Koto rendah Siulak  berlokasi sekitar  15 Km dari Kota Sungai Penuh, Sejarah terbentuknya Dusun Koto rendah diperkirakan dimulai dari Abad 17 M. Walaupun demikian perbukitan disekitar desa Koto Rendah sudah lebih dulu dihuni oleh masyarakat megalitik, sebab ditemukan beberapa pecahan2 gerabah serta susunan bebatuan besar di daerah sana.
Koto Rendah berasal dari kata Koto merendah sebab menurut Tambo Adat Tigo Luhah Tanah Sekudung, sebelum Depati Mangku Bumi bertedo ( Bersembah) menghadap raja Jambi di Muara Masumai beliau mengadakan Tarak (bertapa) di wilayah Air Manimbak berbatasan dengan Solok Selatan sekarang, disana beliau mendapatkan seekor Siamang berkulit Putih, ketika beliau pulang ke Siulak Panjang, Siamang tersebut mengikuti beliau dari atas pohon, dan saat beliau berhenti disebuah kawasan utara Siulak Panjang, Siamang tersebut turun dari pohon ( Merendah), lokasi tempat turunnya siamang putih tersebut sampai sekarang dinamakan sebagai Koto Rendah. 

Awalnya, daerah di sekitar Koto Rendah hanyalah kawasan petalangan, kebun dan peladangan dari orang2 Desa Siulak Panjang, Dusun Baru Siulak dan Koto beringin yang berkembang menjadi sebuah dusun, karena kelebu-kelebu dari dusun asal membentuk dusun yang bernama Koto Rendah maka koto rendah membentuk empat Jurai yaitu :
1. Jurai Demang, dihuni oleh penduduk yang berasal dari Dusun Baru Siulak Luhah Demong Rio Bayan
2. Jurai Jagung, dihuni oleh Penduduk yang berasal dari Ujung Tanjung Koto Beringin Melako Kcik, Luhah Jagung Marajo Indah Sungai Langit Depati Marajo
3. Jurai Temenggung Mudik, dihuni oleh penduduk Kelebu Belah Mudik dusun Siulak Panjang, Luhah Depati Mangku Bumi tuo Kulit Putih Suko Dirajo
4. Jurai Temenggung Hilir, dihuni oleh Penduduk yang berasal dari Kelebu Gdang dusun Siulak Panjang, Luhah Depati Agung Jindah Putih nan 13 Perut.
Ini lah empat Jurai yang membentuk dusun Koto Rendah.

            Gambar 1. Umah Gedang Empat Jurai Koto Rendah


                                         


Upacara Kenduri Sko

Dalam Lingkup kawasan Adat Tigo Luhah Tanah Sekudung, Upacara kenduri Sko yang lazim disebut oleh Mayoritas penduduk Kerinci mempunyai Sebutan Lain,yaitu :
1. Manggin Depati Ninek Mamak, sebab Upacara ini menghimpun seluruh Depati Ninik Mamak, atas undangan dari Anak Batino Tuo serta Anak batino dalam, di dalam sebuah dusun.
2. Kenduri Ajun Arah, sebab Depati Ninik mamak bertugas mengajun dan mengarahkan anak buah anak kemenakan dalam dusun tersebut.
Upacara kenduri Sko mengharuskan untuk memotong seekor kerbau dan menghanguskan beras 100 gantang. biasanya dilaksanakan setahun sekali sehabis panen, namun sekarang ada yang melaksanakan selama lima tahun sekali, tiga tahun sekali, bahkan ada yang tidak melaksanakan lagi.





Tahap Pelaksanaan Kenduri Sko
1. Balemang
Anak Batino menyiapkan seluruh perlengkapan Upacara seperti Lemang, Jadah, Bunga2an, Limau dan lain sebagainya. Lemang untuk kenduri Sko biasanya dihiasi dengan daun Jiluang Abang yang diberi Rambu-rambu, rambu rambu tersebut dipasang retih padi ( semacam popcorn dari padi), oleh sebab itu Lemang ini disebut dengan Lemang Berambu.
Anak Jantan, biasanya memasang Karamentang, dan Karang Bumbun yaitu bendera Adat Kerinci, yang menandakan akan dilaksananak lek negeri, upacara Adat Negeri.

      Gambar 2. Seorang Anak batino sedang Balemang, untuk Kenduri Sko
                        
  Gambar 3. Anak Jantan, memasang karangmentang, dan Karang Bumbun
                                            
                          
Gambar 4. Lemang Berambu, yang hanya ada saat Kenduri Sko



 2. Tulak Bla
Para Pemangku Adat serta Anak Batino Tuo, akan mengelilingi dusun tersebut dengan memercikkan Air Jeruk serta bunga2an, Asap kemenyan, dan mengibas Lidi2 untuk tujuan membersihkan kawasan kampung dari pengaruh2 negatif seperti gangguan Roh jahat, Hama dan Penyakit. sebelum keliling dusun dilaksanakan seorang tokoh adat akan Azan ( Bang) di Pasambe, yaitu dihalaman Rumah Gdang.

  Gambar 5.  Pemangku Adat, serta Anak Batino Tuo sedang melakukan Tulak Bla

 

3. Mandi Balimau
Setelah Tulak Bla, iringin Pemangku Adat akan menuju pinggiran Sungai Batang Merao, kemudian pemangku adat meletakkan sesajian dan beberapa perlengkapan upacara untuk dimantrai, setelah itu pemangku adat akan memercikkan air jeruk, serta bunga-bungan kepada seluruh penduduk Kampung.

Gambar 6. Para Pemangku Adat beserta perlengkapan Mandi Balimau, serta air perasan Limau Dalam baskom



4. Balahak ke Rumah Gdang
Setelah mandi Balimau, para Pemangku adat akan menuju Rumah Gdang, Rumah Gdang juga dipercikkan air Limau sebagai tanda penyucian,selain itu barang2 pusaka juga diturunkan dari Paran (peti penyimpanan diatas loteng) untuk di sucikan dengan air limau, kemudian dibunyikan Tabuh Larangan bahwa besok akan dilaksanakan Kenduri Sko/Kenduri Ajun Arah/Manggin Depati Ninek Mamak.

Gambar 7. Setelah Kenduri Sko, Para Pemangku adat Menuju Rumah Gdang, terdapat Tabuh Larangan di dalam rumah Adat ini
 

5. Kenduri Sko

Kenduri Sko biasanya dihadiri oleh Tamu2 Agung, serta beberapa orang yang akan dinobatkan sebagai Pemangku adat yang Baru, untuk menyambut tamu tersebut diadakan Pencak Silat, dan Tari Rangguk, kemudian Tamu tersebut diarak menuju Rumah Gedang. setelah dinobatkan sebagai pemangku Adat baru dilaksanakan kenduri, Nasi Ibat, serta Gulai akan dihidangkan setelah pembacaan do'a dari Siak, Imam dan Pegawai, diadakan Makan bersama penduduk Kampung sebagai Rasa Syukur kepada Allah swat atas Panen yang Melimpah ruah.

Gambar 8. Pencak Silat, menyambut para Pemangku Adat

gambar 9. Penobatan Gelar Adat

gambar 10. Berdo'a sebagai rasa syukur atas terlaksananya Upacara Kenduri Sko





Sumber Foto : Group Facebook Koren City  dengan Alamat URL
                         https://www.facebook.com/groups/rialnet/?fref=ts



Minggu, 15 Maret 2015

Kuluk : Ikat Kepala Tradisional Perempuan Suku Kerinci


Mungkin telinga kita tak asing dengan lirik lagu lama yang berjudul "Sakti alam Kerinci" ini ....... ngaleh alah jangki tando uhang kinci, pakai alah Kuluk di bucincin pulo........
Kuluk, Kulauk, Sungkun dsb merupakan penutup/ikat kepala tradisional perempuan Kerinci. Asal kata Kuluk adalah Tengkuluk. Orang Kerinci menggunakan kuluk biasanya dihiasi cincin-cincin baik cincin Akik, Cincin Anye, Cincin Loyang/tembaga dsb. Jumlah cincin pada kuluk menunjukkan strata sosial seorang perempuan pada masyarakat dulunya, semakin banyak cincin menunjukkan menunjukkan dia berada dalam kalangan"bangso tinggi".
Masyarakat Kerinci Hulu umumnya menggunakan kuluk berhiasan Cincin Akik/cincin tembaga baik satu tingkat maupun dua tingkat dengan hiasan untaian berupa lingkaran tembaga yang disebut dengan "Gambang", para Balian menambahkan hiasan bunga raut dan Turai pabung pada kuluknya walaupun dewasa ini sudah dipakai oleh siapa saja.
Sama halnya dengan masyarakat Kerinci tengah, kuluk yang digunakan adalah kuluk bertingkat dua atau satu biasanya dihiasi dengan cincin akik, maupun cincin tembaga tetapi tidak menggunakan hiasan bunga raut maupun turai pabung, hanya saja pada kuluk digantungkan empat buah Anak Kunci yaitu Kunci Rumah, Kunci Bilik Dalam,Kunci Pendapuran dan Kunci Peti.
Berbeda dengan Masyarakat Kerinci hilir, kuluk yang digunakan dibuat dari selembar selendang yang dililit sedemikian rupa dikepala, pada bagian depan biasanya dihiasi oleh cincin anye dan turai tembaga.
Dari sini kita tahu bahwa sejak zaman dulu, nenek moyang Kerinci sudah ahli mengasah batu untuk dijadikan perhiasan mereka, batuan diperoleh tentu dari lingkungan yang terdekat dengan tempat tinggalnya.




1. Kuluk Bercincin Akik

 2. Kuluk Para Balian Saleh yang berhias Bunga Raut dan Turai Pabung Khas Wilayah Kerinci Mudik

3. Gantungan "Gambang" atau Bulatan Tembaga pada kuluk

 3. Kuluk Khas Kerinci Tengah dengan Gantungan Kunci-kunci
4. Kuluk Khas Kerinci Hilir, terbuat dari Selendang dengan Hiasan Cincin Anye dan turai tembaga di bagian Depan